Connect With Us

Melihat Ujung Kulon, 10 Bulan Pascatsunami Selat Sunda

Muhamad Ikbal | Senin, 7 Oktober 2019 | 19:23

Kondisi Desa Ujung Jaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang pascatsunami Selat Sunda. (TangerangNews/2019 / Mochamad Iqbal)

 

Pandeglang - Ujung Kulon di Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten menjadi daerah terdampak tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018. Tsunami itu menyisakan trauma bagi warga di ujung barat pulau Jawa.

Letusan Gunung Anak Krakatau yang menyebabkan longsornya sebagian tubuh Anak Krakatau mengakibatkan tsunami. Wilayah terdampak tsnumai berada di dua provinsi Banten dan Lampung. Lebih dari 400 orang meninggal akibat terseret arus tsunami dan tertimpa reruntuhan.

Pandeglang menjadi daerah paling terdampak tsunami dengan menelan korban 296 jiwa menurut catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 14 Januari 2019. Korban luka mencapai 16 ribu lebih dan 7 ribu orang mengungsi.

Akses ke Ujung Kulon saat tsunami terjadi sempat putus, warga terisolir, bantuan sulit masuk khususnya ke perkampungan. Medam berat dan infrastruktur jalan rusak membuat pemerintah dan relawan bekerja keras untuk mendistribusikan bantuan.

Hampir setahun berlalu, tsunami yang tidak disertai gempa tektonik itu masih menyisakan trauma bagi warga sekitar. Kendati demikian, aktivitas warga sudah normal. Pria, wanita, anak-anak, betaktivitas seperti biasa. Ada yang bertani, melaut, dan memasarkan hasil tani.

Di Kampung Tanjung Lame, Desa Ujung Jaya, Kecamatan Sumur, Kabupaen Pandeglang misalnya. Warga di sana masih was-was dengan suara gemuruh ombak. Pun dengan anak-anak mereka, gemuruh ombak yang besar terkadang membuat warga takut. Terlebih anak-anak yang masih sering ingin mengungsi saat mendengar suara ombak.

"Yang masih trauma itu anak-anak, kadang kalau mereka dengar ombak gede bilang 'ayo kita ngungsi'," cerita seorang warga Desa Ujung Jaya, Mang Aja, Minggu (6/10/2019). 

Dua anaknya yang berusia 7 dan 9 tahun masih trauma. Mang Aja tak menampik peristiwa tsunami Selat Sunda adalah peristiwa terbesar yang pernah ia alami bersama keluarganya. Kejadiannya datang secara tiba-tiba tanpa ada peringatan dini.

Mang Aja bercerita, deru mesin alat berat di proyek tambak udang di dekat perkampungan kadang membuat takut. Suaranya seperti gemuruh ombak. Orang dewasa tahu bahwa itu suara mesin, tapi anak-anak yang mendengar berasumsi berbeda. Suara itu dianggap sebagai suara ombak besar.

"Anak-anak kalau dengar suara buldozer dikiranya suara ombak, jadi mereka pengennya ngungsi aja kalau denger itu," ungkapnya.

Baca Juga :

Orangtua di Ujung Jaya masih memaklumi traumatik yang dialami anak-anak mereka. Meski demikian, trauma healing terus dilakukan oleh pemerintah dan relawan. 10 bulan pascatsunami, recovery fisik dan mental terus dilakukan.

Beberapa relawan dari Yayasan Society for Health, Education, Enviromment, and Peace (Sheep) Indonesia dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jakarta mengawal recovery itu. Mereka mengawal selama 10 bulan pascatsunami Selat Sunda di Ujung Kulon.

Yayasan Society for Health, Education, Environment, and Peach (Sheep) mendirikan ruang bermain anak sebagai salah satu upaya pemulihan kondisi mental anak-anak pascatsunami Selat Sunda di Desa Ujung Jaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang

"Kita sudah 10 bulan mendirikan posko dan membuat beberapa bangunan mulai dari Huntara dan toilet massal di beberapa lokasi. Trauma healing terus kita lakukan," kata relawan Sheep Indonesia, Suparlan.

Para relawan juga mengawal pembangunan yang ada. Temuan mereka, banyak warga yang enggan tinggal di hunian sementara (huntara) yang dibangun pemerintah, mereka lebih memilih mendirikan bangunan di atas reruntuhan rumahnya.

Yayasan Society for Health, Education, Environment, and Peach (Sheep) mendirikan ruang bermain anak sebagai salah satu upaya pemulihan kondisi mental anak-anak pascatsunami Selat Sunda di Desa Ujung Jaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang

"Kalau huntara kan bangunannya berjejer begitu, mungkin mereka tidak biasa, mereka inginnya mendirikan rumah yang tipenya tidak begitu," kata dia.

Penanganan jangka panjang pascabencana, kata Suparlan, harus terus dilakukan. Mitigasi dan literasi bencana harus terus digalakkan di wilayah rawan bencana. Mengingat, ancaman bencana diprediksi akan terus terjadi. Pasalnya, Indonesia dikeliling lempengan-lempengan yang suatu saat menimbulkan gempa.

Sementara, Tubagus Ahmadi, Direktur WALHI Jakarta menekankan, Pemerintah Daerah setempat harus lebih responsif menangani bencana alam. Dalam catatan WALHI, kata Bagus, 50 persen lebih wilayah Banten rawan bencana alam. Ia mendorong adanya kebijakan Pemda yang responsif agar siap mengantisipasi dan memulihkan kondisi masyarakat setelah terjadi bencana.

"Kebijakan ini sangat penting, sebab kadang respon terhadap bencana lebih ditekankan saat terjadi, sementara pasca bencana kurang mendapatkan perhatian," pungkasnya.(RMI/HRU)

MANCANEGARA
Ameba Pemakan Otak Mulai Muncul di Berbagai Negara, Ilmuwan Khawatir Kasus Terus Bertambah

Ameba Pemakan Otak Mulai Muncul di Berbagai Negara, Ilmuwan Khawatir Kasus Terus Bertambah

Selasa, 14 Juli 2026 | 13:48

Kematian Jordan Smelski, bocah berusia 11 tahun asal Amerika Serikat, akibat infeksi langka yang disebabkan Naegleria fowleri atau “ameba pemakan otak”, kembali menjadi sorotan setelah para ilmuwan memperingatkan potensi penyebaran organisme tersebut

BANTEN
Mulai Dibangun, DPD RI Banten Bakal Punya Kantor Baru Senilai Rp10 Miliar

Mulai Dibangun, DPD RI Banten Bakal Punya Kantor Baru Senilai Rp10 Miliar

Rabu, 5 Agustus 2026 | 21:14

Pembangunan Kantor Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Provinsi Banten mulai berlangsung di Kota Serang, Rabu, 5 Agustus 2026.

PROPERTI
Paramount Petals Hadirkan Shuttle Bus Harian, Simak Rute dan Jadwalnya

Paramount Petals Hadirkan Shuttle Bus Harian, Simak Rute dan Jadwalnya

Selasa, 4 Agustus 2026 | 11:12

Warga Tangerang kini memiliki pilihan transportasi baru untuk menuju Jakarta. Paramount Petals menghadirkan layanan shuttle bus harian yang menghubungkan kawasan Paramount Petals dengan Counter DayTrans Grogol, Jakarta Barat.

NASIONAL
IDI Nilai Komentar Nirempati Oknum Nakes ke Yurizal Pasien BPJS karena Dipicu Burnout

IDI Nilai Komentar Nirempati Oknum Nakes ke Yurizal Pasien BPJS karena Dipicu Burnout

Rabu, 5 Agustus 2026 | 14:41

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menanggapi munculnya komentar yang dinilai tidak berempati dari sejumlah akun yang mengaku sebagai tenaga kesehatan terhadap pasien BPJS Kesehatan bernama Yurizal Tri Chaerawan.

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill