Connect With Us

Keberadaan Polisi Tidur di Tangerang Diprotes

Mohamad Romli | Jumat, 3 Maret 2017 | 15:00

| Dibaca : 22183

Jalan di Tangerang. (@tangerangnews 2017 / Raden Bagoes Irawan)

 

TANGERANGNews.com-Polisi tidur atau alat pembatas kecepatan pengendara kendaraan bermotor bukan hal yang asing ditemui di jalan raya, terlebih jalan dilingkungan pemukiman.

Alasan umum membuat polisi tidur adalah untuk membatasi kecepatan kendaraan yang melintas, terlebih dipemukiman warga yang padat penduduk. Namun, seringkali polisi tidur menyebabkan kecelakaan lalu lintas, terlebih bagi pengendara kendaraan roda dua yang mengutamakan keseimbangan yang bisa saja terjatuh karena kaget saat tiba-tiba melintas diatas polisi tidur tersebut.

Membuat polisi tidur ternyata tidak bisa asal-asalan, Pemerintah sudah mengeluarkan aturannya dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 3 Tahun 1994 tentang Alat Pengendali dan Pengaman Jalan.

Menurut Yudi Adiyatna, pegiat Wahana Hijau Fortuna (WHF), tidak semua warga tahu bahwa ada aturan untuk membuat polisi tidur, sehingga polisi tidur yang saat ini banyak dijumpai tak sesuai dengan aturan tersebut. Selain itu, kata Yudi, sebenarnya untuk membuat polisi tidur perlu izin dari Pemerintah Daerah setempat, karena hal ini menyangkut fasilitas publik dan juga menyangkut keselamatan dalam berlalu lintas.

 

"Aturannya sudah ada. Namun karena kurang sosialisasi, akhirnya warga tidak paham soal itu," katanya, Jumat (3/2/2017).

 

Prinsip membuat polisi tidur harus memperhatikan keselamatan kendaraan yang melintas, sehingga harus diperhatikan soal ketinggian serta tanda yang menunjukkan adanya polisi tidur tersebut

"Saya perhatikan, polisi tidur yang ada saat ini tidak mengacu pada batas ketinggian serta tak ada tanda, sehingga cenderung membahayakan pengendara," tambahnya.

Yudi mengaku,  sesuai dengan Pasal 5 aturan tersebut, polisi tidur harus disertai tanda garis serong berupa cat warna putih agar bisa dilihat pengendara.

Sementara dalam Pasal 6 mengatur soal bentuk pembatas yang harus menyerupai trapesium setinggi maksimal 12 cm. Sisi miringnya punya kelandaian yang sama maksimum 15 persen, dan lebar datar bagian atas minimum 15 cm.

Soal bahan untuk membuat polisi tidur tersebut, Yudi mengatakan sama dengan bahan badan jalan atau menggunakan bahan karet.

 

Yudi meminta Pemkab Tangerang untuk mensosialisasikan aturan soal hal tersebut, selain itu, polisi tidur yang tidak sesuai dengan aturan harus segera ditertibkan agar tidak mengganggu kenyamanan dan keamanan pengendara.

 

"Harus ada sosialisasi ke warga, selain itu harus ada aturan ditingkat Kabupaten Tangerang, sehingga warga tidak asal-asalan membuat polisi tidur," tandasnya.

 

BANTEN
Kubu Oso Menang Gugatan, Hanura Banten Terus Konsolidasi

Kubu Oso Menang Gugatan, Hanura Banten Terus Konsolidasi

Kamis, 17 Mei 2018 | 23:00

TANGERANGNEWS.com-Dewan Pengurus Daerah (DPD) Partai Hanura Provinsi Banten merasa lega atas putusan majelis hakim Pengadilan Tata

TANGSEL
Polres Tangsel Ungkap Jaringan Bandar Narkoba Senilai Rp4 Miliar

Polres Tangsel Ungkap Jaringan Bandar Narkoba Senilai Rp4 Miliar

Jumat, 25 Mei 2018 | 17:00

TANGERANGNEWS.com-Satuan Reserse Narkoba Polres Tangsel berhasil membekuk tujuh tersangka kawanan pengedar dan bandar narkotika beserta berbagai macam jenis barang bukti narkoba senilai miliaran rupiah.

KAB. TANGERANG
Sabun Papaya & Temulawak Palsu Beredar Seolah dari Malaysia

Sabun Papaya & Temulawak Palsu Beredar Seolah dari Malaysia

Kamis, 24 Mei 2018 | 16:00

TANGERANGNEWS.com-Sabun papaya, Widya Temulawak dan K Brother. Ketiga produk tersebut yang dalam kemasannya tertulis diproduksi di Malaysia dan Pilipina ternyata palsu.

AYO! TANGERANG CERDAS
Dicari, 200 Peserta Penerima Beasiswa Pelajari Produk Apple di BSD

Dicari, 200 Peserta Penerima Beasiswa Pelajari Produk Apple di BSD

Senin, 21 Mei 2018 | 15:00

TANGERANGNEWS.com-Pasca diresmikannya Apple Developer Academy di BSD Green Office Park, BSD City, Kota Tangsel oleh Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada 7 Mei 2018 lalu,

"Penderitaan terburuk dalam hidup bukanlah dengan kalah, kehilangan sesuatu maupun kemalangan yang menimpa, melainkan rasa takut akan sesuatu dan kemudian ketakutan itu tak pernah terlepas dari diri Anda."

Anonim