Connect With Us

Kang Budi, Wartawan Tangerang Mendongeng Dihadapan Ratusan Siswa di NTT

Mohamad Romli | Senin, 11 Desember 2017 | 21:00

| Dibaca : 410

Kang Budi saat memberi pelajaran mendongeng kepada ratusan siswa di Kampung Lamakera, Desa Moton Wutun, Kecamatan Solor Timur, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Sabtu (9/12/2017). (@TangerangNews / Mohamad Romli)

TANGERANGNEWS.com-Budi Sabarudin, wartawan yang juga pendongeng keliling pukau ratusan siswa di Kampung Lamakera, Desa Moton Wutun,  Kecamatan Solor Timur, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Sabtu (9/12/2017).

Sosok yang kini akrab disapa Kang Budi itu menunjukkan kepiawaiannya dalam mendongeng yang dihelat di Ruang Tunggu Pelabuhan Lamakera. Sekitar 300 siswa Taman Kanak-kanak, SD Inpres, Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) dan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Lamakera pun terpukau oleh kelincahannya.

Saat itu, Kang Budi tampil dalam acara Panggung Gembira yang digagas Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bekerjasama dengan Komisi 9 DPR RI.

BACA JUGA :

Dalam kesempatan langka itu, Budi membawakan cerita Raja yang Durhaka pada Perempuan dan Anak-anak, yang dikemas dalam pertunjukan dongeng dengan pendekatan teater modern dan tradisi, dengan tagline menghibur, mendidik dan mencerahkan.

"Alhamdulillah para siswa antusias menyaksikan pertunjukan dongeng yang saya bawakan. Respon, reaksi, dan spontanitas mereka terhadap cerita yang saya bawakan juga bagus sekali. Mereka juga diajak terlibat dalam pertunjukan dongeng saya," ujarnya, Senin (11/12/2017).

Diterangkannya, cerita yang dibawakan Budi berkaitan dengan tema keperempuanan dan anak, seperti kekerasan terhadap perempuan dan anak, baik itu yang terjadi dalam rumah tangga, sekolah, maupun lingkungan sosial. Tema itu diminta dari kementerian.

Ayu, salah satu siswa SD, ketika diminta komentarnya tentang pertunjukan dongeng yang dibawakan Budi,  mengatakan  mengaku senang. "Bagus. Lucu," katanya.

Budi mengaku senang sekali mendapat kesempatan mendongeng di Kampung Lamakera. Walaupun Lamakera berada di ujung pulau Flores, udaranya panas, dan kokasinya jauh sekali, namun pemandangannya indah dan cantik luar biasa. Penduduknya ramah-ramah dan santun.

Budi menerangkan, dari Tangerang sampai ke Lamakera membutuhkan sekitar 11-12 jam. Perjalanan dimulai dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta -- Bandara Juanda Surabaya --  Bandara El Tari Kupang -- Bandara Larantuka -- Pelabuhan Lamakera.

"Khusus dari Bandara El Tari Kupang ke Larantuka menggunakan jalan darat naik mobil sekitar 20 menit, kemudian dari Larantuka ke Lamakera menggunakan transportasi laut, kapal motor sekitar dua jam," katanya.

Lamakera adalah perkampungan yang ada di kepulauan Solor. Penduduknya hidup di bukit-bukit pegunungan yang tandus dan berbatu-batu. Pekerjaan penduduk Lamakera mencari ikan di laut.

Spiritualitas keagamaan mereka masih sangat kuat. Banyak anak-anak menjelang shalat sudah ada di masjid. Selain itu tradisi gotong royong dalam kehidupan mereka masih sangat terjaga juga.

Tradisi lainnya yang masih dipegang warga Lamakera hingga saat ini spirit mencari ilmu. Para keluarga selalu berjuang habis-habisan menyekolahkan anak-anaknya. Mereka malu jika anaknya tidak sekolah dan bangga jika anaknya meraih gelar sarjana. Anak-anaknya bisa bertahan tidak pulang bertahun-tahun hidup di perantauan sebelum kuliahnya selesai. 

Dalam kesempatan itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise mengatakan tingkat kekerasan terhadap perempuan dan anak di NTT masih tinggi. Karena itu, Panggung Gembira dijadikan ajang menyosialisasikan UU No 35/2015 tentang perlindungan anak.

Selain itu juga sebagai ajang kampanye mengajak seluruh warga NTT agar menghentikan melakukan kekerasaan terhadap perempuan. "Saya menghimbau kepada warga agar menghentikan melakukan kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak," ungkapnya.

Dalam keaempatan yang sama Ketua Komisi 9 Ali Taher bersama Menteri Yohana melaksanakan peletakan batu pertama pembangunan Bukit Peradaban di kawasan perbukitan Lamakera.

Saat ini di kawasan itu sudah sudah ada sekolah MAN, yang akan dilengkapi dengan perguruan tinggi serta laboratorium bahasa Inggris, Arab, dan Cina. Selain itu akan dibangun asrama pelajar dan mahasiswa.

Di asrama itu nantinya diharapkan sebagai tempat pelajar dan mahasiswa mengkaji tentang keislaman. Dengan demikian Lamakera ke depan akan menjadi sentral kebudayaan Islam Nusantara yang berkemajuan.(RAZ/HRU)

OPINI
Earth Hour: Peringatan Bagi Manusia di Bumi

Earth Hour: Peringatan Bagi Manusia di Bumi

Rabu, 4 April 2018 | 12:00

Kondisi iklim yang semakin hari mengalami perubahan tidak menentu akibat adanya proses pemanasan global membuat bumi bekerja semakin keras. Masyarakat dunia memiliki peran besar terhadap perubahan iklim yang terjadi.

TEKNO
Samsung Rilis Galaxy A8+ Edisi Spesial Avenger : Infinity War

Samsung Rilis Galaxy A8+ Edisi Spesial Avenger : Infinity War

Jumat, 27 April 2018 | 18:00

TANGERANGNEWS.com-Samsung meluncurkan Samsung Galaxy A8 + Avengers Marvel Studio: Infinity War Special Edition dalam jumlah yang sangat terbatas, yaitu 500 barang koleksi. Smartphone ini hanya akan tersedia saat Avengers Marvel Studio: Infinity War

BANDARA
Bagasi Hilang di Terminal 3 Soekarno-Hatta, AP II Minta Maaf

Bagasi Hilang di Terminal 3 Soekarno-Hatta, AP II Minta Maaf

Jumat, 25 Mei 2018 | 09:00

Dijelaskan Erwin, pihaknya menyerahkan tindak pidana yang terjadi tersebut kepada pihak kepolisian dalam hal ini Polres Bandara Soekarno-Hatta. “Saat ini petugas kepolisian tengah melakukan penyelidikan,” terangnya.

MANCANEGARA
Ajaib, Kakek di India Makan Pasir Selama 40 Tahun

Ajaib, Kakek di India Makan Pasir Selama 40 Tahun

Jumat, 23 Maret 2018 | 09:00

TANGERANGNEWS.com-Demi alasan kebugaran, seseorang akan mengonsumsi makanan empat sehat lima sempurna. Yang jelas harus ada kandungan karbohidrat, protein dan serat. Namun, apa yang dilakukan oleh seorang kakek di India sangatlah beda.

"Penderitaan terburuk dalam hidup bukanlah dengan kalah, kehilangan sesuatu maupun kemalangan yang menimpa, melainkan rasa takut akan sesuatu dan kemudian ketakutan itu tak pernah terlepas dari diri Anda."

Anonim