Connect With Us

7 Makanan Daging Hewan sadis di Dunia

FER | Senin, 28 November 2016 | 19:00

| Dibaca : 5586

Makanan Daging Tikus (istimn / TangerangNews)

TANGERANGNews.com -  Organisasi aktivis hewan, People for the Ethical Treatment of Animal (PETA), baru-baru ini mengecam sejumlah restoran di Amerika Serikat yang menyajikan gurita hidup-hidup kepada konsumen. PETA meluncurkan petisi perlindungan hukum untuk hewan laut.

Sebab, cara penyajian gurita hidup tersebut dianggap kejam. Sebenarnya bukan hanya gurita hidup, beberapa restoran dunia juga terkenal dengan penyajian hidangan yang anti-mainstream dan kontroversial. Berikut tujuh cara penyajian hidangan yang dianggap kejam seperti dikutip dari Dailymail:

1. Gurita hidup

Penyajian gurita hidup berasal dari Korea Selatan dengan nama sannakji. Cara penyajiannya, koki akan memotong tentakel gurita yang masih hidup. Kemudian setelah tentakelnya habis, barulah gurita disayat.

Sannakji biasanya disajikan dengan kecap dan minyak wijen. Bisa juga gurita ukuran kecil dan sedang disajikan hidup-hidup tanpa disayat.

PETA mengatakan bahwa gurita yang termasuk sebagai hewan invertebrata cerdas sebenarnya dapat merasakan sakit yang sama seperti halnya mamalia.

"Gurita punya sistem saraf yang canggih yang mana responsif akan rasa sakit. Jadi sebenarnya gurita menderita rasa sakit yang sangat hanya untuk pengalaman makan yang sekejap," kata Wakil Presiden PETA, Daphna Nachminovitch.

2. Katak hidup

Di Jepang tak hanya ikan, katak juga menjadi sashimi. Namun, di salah satu restoran daerah Tokyo, penyajiannya terbilang tak biasa. Koki akan menusuk katak, memotong kepala, dan menguliti katak hidup untuk disajikan di piring yang berisi es, kecap asin, dan irisan lemon.

Dalam video yang diambil di salah satu restoran Tokyo tersebut menampilkan katak yang sudah dikuliti kakinya tetap bergerak dan matanya masih mengedip.

3. Bayi tikus

Bayi tikus yang baru lahir dan kemudian dicelupkan di minyak panas menjadi hidangan yang terkenal dari daerah Guangdong, China selatan. Hidangan ini disebut San Zhi Er dan dilaporkan sudah ada sejak tahun 1949.

Shan Zhi Er sendiri jika diterjemahkan berarti tiga cicitan, yang berasal dari bunyi yang timbul dari sajian tersebut. Cicitan pertama timbul dari tikaman pisau, kedua dari celupan minyak panas, dan ketiga saat masuk ke mulut.

4. Udang hidup

Sajian ini terkenal di negara seperti Vietnam, Denmark, dan London. Biasanya udang dioles mentega dan dibakar hidup-hidup di atas bara api. Sebenarnya teknik memasak ini juga dapat dengan mudah ditemui di Indonesia.

5. Ikan hidup

Negara Asia bagian timur akrab dengan hidangan ikan hidup. Salah satu yang paling kontroversial adalah sajian ikan yin yang, berasal dari Taiwan.

Jadi, bagian tubuh ikan digoreng di minyak panas, sedangkan kepalanya dibungkus handuk basah. Efeknya adalah ikan masih hidup dan mencoba bernapas ketika tubuhnya digoreng. Tubuhnya kemudian disiram saus dan disajikan di piring selagi hidup.

6. Otak monyet

Lagi-lagi sajian ini berasal dari daerah Asia. Cara penyajiannya terbilang sadis, yakni kepala monyet hidup dijepit di meja, lalu kemudian tempurung kepalanya dibuka.

7. Burung yang ditenggelamkan

Sajian dari Perancis yang kini ilegal ini dilakukan dengan mengurung burung ortolan di kandang sempit selama sebulan. Burung itu diberi makan anggur juga daun ara sampai gemuk dan tak bisa bergerak.

Setalah itu burung akan ditenggelamkan di armagnac (sejenis brendi) dan dipanggang selama delapan menit. Cara makannya, konsumen akan makan dengan kepala ditutup serbet dengan tiga alasan. Satu, untuk menghirup harumarmagnac; dua, untuk menutup ritual makan yang berantakan ini dari pengunjung lain; dan ketiga, dipercaya untuk menyembunyikan kekejaman makan dari Tuhan.

MANCANEGARA
Tewaskan Ratusan Orang, PKS Sebut Terorisme di Masjid Rawda Mesir Biadab

Tewaskan Ratusan Orang, PKS Sebut Terorisme di Masjid Rawda Mesir Biadab

Sabtu, 25 November 2017 | 22:00

TANGERANGNEWS.com-Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini, sangat prihatin dan mengutuk keras aksi terorisme di Masjid Ar-Rawda Sinai Utara Mesir

TOKOH
Kang Budi, Sang Pelestari Dongeng di Tangerang

Kang Budi, Sang Pelestari Dongeng di Tangerang

Sabtu, 30 September 2017 | 20:00

Kang Budi, Sang Pelestari Dongeng di Tangerang

KAB. TANGERANG
Irgan Ingatkan Generasi Milenial Nilai Kebangsaan

Irgan Ingatkan Generasi Milenial Nilai Kebangsaan

Minggu, 17 Desember 2017 | 21:00

TANGERANGNEWS.com-Di era globalisasi yang generasi mudanya semakin melek akan perkembangan teknologi dan gadget, yang sekarang biasa disebut dengan kaum milenial, namun jangan sampai mereka melupakan nilai-nilai kebangsaan Indonesia.

"Dalam hidup, tidak ada seorang pun yang mendapatkan tempat seperti apa yang mereka sangka akan dapatkan. Tapi ketika Anda bekerja dengan keras dan bersikap baik, berbagai hal yang mengagumkan akan terjadi."

Conan O'Brein