Connect With Us

Fethullah Gulen Tuding Erdogan Rusak Demokrasi Turki

Mohamad Romli | Selasa, 26 Maret 2019 | 17:00

Ulama kharsimatik, Fethullah Gulen. (Istimewa / Istimewa)

TANGERANGNEWS.com-Ulama kharsimatik, Fethullah Gulen menilai demokrasi di Turki telah dirusak Presiden Recep Tayyip Erdogan. Namun Fethullah Gulen percaya kondisi itu tak akan berlangsung lama.

Fethullah Gulen mengatakan, perlindungan konstitusi kepada masyarakat sipil, kebebasan pers, dan kurikulum sekolah harus dievaluasi. Para pemimpin dan tokoh publik harua mengaplikasikan nilai-nilai demokrasi dengan baik, sehingga nantinya demokrasi di Turki semakin kuat, dan kondisi saat ini tak akan terulang lagi.

“Pertama-tama, kurikulum sekolah harus dievaluasi kembali. Topik-topik seperti hak yang sama untuk semua warga negara dan hak asasi manusia serta kebebasan mendasar harus diajarkan kepada siswa di tahun-tahun pertama sekolah sehingga mereka dapat menjadi penjaga hak-hak ini ketika mereka dewasa. Kedua, ada kebutuhan akan konstitusi yang tidak memungkinkan dominasi minoritas atau mayoritas dan melindungi dalam setiap situasi hak asasi manusia yang dirujuk dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB. Masyarakat sipil dan kebebasan pers harus dilindungi oleh konstitusi untuk berkembang dan menjadi bagian dari pengawasan dan keseimbangan terhadap kekuatan negara. Ketiga, para pemimpin atau tokoh publik harus menekankan nilai-nilai demokrasi dalam retorika dan tindakan mereka,” ujar Fethullah Gulen.

Dalam wawancaranya dengan media Prancis, Le Monde, Fethullah Gulen menerangkan, kondisi demokrasi Turki saat ini dianggap memprihatinkan, karena banyak dari warga sipil, akademisi, jurnalis, aktivis yang ditahan karena telah berani mengkritik pemerintah Turki. 

"Pemerintah di bawah Presiden Erdogan telah mengejar saya dan juga ratusan ribu orang lainnya pengkritik dari berbagai kelompok, terutama kepada gerakan Hizmet yang damai. Para aktivis lingkungan, jurnalis, akademisi, Kurdi, Alevis, non-Muslim, dan beberapa kelompok Muslim Sunni yang telah mengkritik tindakan Erdogan memiliki andil besar dalam konsekuensi dari agenda politiknya. Kehidupan telah dihancurkan melalui pemecatan, penyitaan, pemenjaraan, dan penyiksaan,” ujar Fethullah Gulen kepada Le Monde.

Fethullah Gulen merupakan ulama karismatik dan paling berpengaruh di Turki, bahkan dia sempat menempati nomor satu tokoh paling berpengaruh di dunia menurut Majalah Foreign Policy pada 2008. Sejak usia belia dirinya sudah terbiasa dalam menghafal Al-Quran dan juga mendalami agama di beberapa sekolah. Di usia empat tahun Fethullah mampu mengkhatamkan Al-Quran hanya dalam waktu satu bulan. Hingga pada akhirnya menjadi seorang ulama yang pemikiran-pemikirannya telah tersebar di seluruh penjuru dunia. 

Walaupun lahir dan besar di Turki, pria yang lahir pada 27 April 1941 saat ini Fethullah Gulen tinggal di sebuah kamp yang berada di wilayah Pennsylvania, Amerika Serikat. Bukan tanpa alasan Fethullah Gulen berada di kamp tersebut, dirinya telah tinggal di Amerika sejak dirinya menjalani operasi Jantung dan disarankan untuk menetap di sana. Kamp tersebut merupakan milik seorang pengikut Fethullah yang merupakan seorang pengusaha di Amerika.

Selain seorang ulama, dirinya juga merupakan seorang inspirator pendidikan yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dalam kurikulumnya, di Indonesia terdapat delapan sekolah yang inspiratornya adalah Fethullah Gulen.

Beberapa tahun silam, dirinya dituduh oleh pemerintah Turki sebagai tokoh ulama yang beperan dibalik aksi kudeta pada Juli 2016 silam. Akibat tuduhan tersebut, Fethullah yang sebelumnya merupakan sekutu dari presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menjadi seseorang yang akhirnya dituduh melakukan kudeta.

Fethullah Gulen mengatakan, pemerintah Turki di bawah Erdogan saat ini menyalahkan dirinya dan gerakan Hizmet sebagai pelaku dari masalah-masalah masa lalu yang terjadi di negara dengan mayoritas masyarakat beragama muslim tersebut. 

Fethullah Gulen merasa pemerintah saat ini mengkambinghitamkan dirinya agar nama baiknya menjadi buruk di mata masyarakat muslim dunia.

Profesor Dr Alon Ben Meir yang merupakan seorang yang ahli di bidang politik wilayah Timur Tengah, yang khusus menangani negosiasi internasional dan penyelesaian konflik menyebutkan dalam twitternya bahwa saat ini terdapat 17.000 wanita bersama dengan lebih dari 600 bayi telah dipenjara.

“That image was taken in Bursa prison.#Erdogan imprisoned 17.000 women with over 600 babies #Dictator @ahmetsyayla @barbarosansalfn @XharraArbana,” ujar Alon Ben Meir melalui Twitter pada 28 Febuari 2019.

Selain ditahan, terdapat satu keluarga dari warga Turki yang tenggelam di laut Aegean saat mencoba pergi meninggalkan negaranya melalui cara yang illegal. Hal tersebut dilakukan agar tidak ditahan oleh pemerintah.(MRI/RGI)

NASIONAL
Polisi Selidiki Viral Teh Kemasan Berbusa yang Dibagikan ke Massa Aksi 28 Oktober

Polisi Selidiki Viral Teh Kemasan Berbusa yang Dibagikan ke Massa Aksi 28 Oktober

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:04

Polda Metro Jaya akan menyelidiki viralnya video teh kemasan berbusa yang beredar di media sosial setelah aksi penyampaian aspirasi pada 28 Oktober 2026.

BISNIS
Mau Jualan saat Ramadan 2027? Simak Perubahan Kebiasaan Belanja Konsumen Mulai dari 10 Hari Pertama Puasa

Mau Jualan saat Ramadan 2027? Simak Perubahan Kebiasaan Belanja Konsumen Mulai dari 10 Hari Pertama Puasa

Jumat, 30 Oktober 2026 | 18:30

Bulan suci Ramadan 2027 tinggal beberapa bulan lagi. Moment ini biasanya dimanfatkan banyak orang untuk berjualan mulai dari takjil, busana muslim dan beragam produk lainnya.

TANGSEL
Musim Hujan Tiba, Pemkot Tangsel Antisipasi Banjir hingga Penyebaran Penyakit

Musim Hujan Tiba, Pemkot Tangsel Antisipasi Banjir hingga Penyebaran Penyakit

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:36

Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel) memperketat mitigasi banjir sekaligus kewaspadaan terhadap potensi penyebaran penyakit seiring meningkatnya intensitas hujan di wilayahnya.

TEKNO
Cegah Serangan Siber PHP2Shell, Pemkot Tangerang Amankan 157 Aplikasi

Cegah Serangan Siber PHP2Shell, Pemkot Tangerang Amankan 157 Aplikasi

Rabu, 28 Oktober 2026 | 22:21

Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) memastikan pelayanan publik berbasis digital tetap berjalan lancar. Pemkot juga menjamin seluruh data pribadi masyarakat berada dalam kondisi aman

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill