Connect With Us

Wiranto: Prabowo Menculik atas Inisiatif Sendiri

Rangga Agung Zuliansyah | Kamis, 19 Juni 2014 | 18:42

Wiranto (Rangga A Zuliansyah / TangerangNews)


JAKARTA - Mantan Panglima Angkatan Bersenjata Indonesia (Pangab) Jenderal Wiranto mengatakan, penculikan aktivis prodemokrasi yang terjadi pada Desember 1997-Maret 1998 dilakukan atas inisiatif sendiri Prabowo Subianto.

"Aksi penculikan adalah inisiatif atas analisis keadaan yang terjadi waktu itu," ujar Wiranto saat memberikan keterangan pers di Posko Forum Komunikasi Pembela Kebenaran di Jakarta (19/6).


Sebelumnya, dalam debat Capres/Cawapres, Jusuf Kalla menanyakan apa penilaian atasan Prabowo ketika terjadinya peristiwa penculikan dan pelanggaran HAM pada tahun 1998, yang dijawab Probowo bahwa .  "Tanya atasan saya waktu itu".
Setelah itu beredar surat keputusan Dewan Kehormatan Perwira yang memberhentikan Prabowo dari keprajuritan TNI.


Wiranto memastikan Panglima ABRI tak pernah menginstruksikan penculikan aktivis.
Dijelaskan Wiranto, dua panglima yang bertugas selama penculikan terjadi, yakni Wiranto dan Feisal Tanjung, ditegaskan tidak pernah memerintahkan langkah represif dalam mengamankan negara.
"ABRI harus komunikatif, persuasif, bukan (menggunakan) cara kekerasan."


Menurut Wiranto, tidak ada kebijakan apapun dari pimpinan ABRI untuk menculik para aktivis saat itu. Hingga akhirnya, Dewan Kehormatan Perwira (DKP) menyidangkan Prabowo.

Wiranto menceritakan, saat di persidangan, Prabowo ditanya mengapa dirinya melakukan penculikan. Prabowo yang kala itu berpangkat Letjen dan menjabat Pangkostrad menjawab melakukannya atas inisiatif sendiri karena keaadan yang berat saat itu. "Jadi itu bukan perintah Pangab," tutur Wiranto.


Sebelumnya, Prabowo Subianto dalam debat calon presiden melimpahkan persoalan penculikan aktivis ke atasannya di militer. Menurut Prabowo, penculikan dilakukannya untuk mengamankan negara. Ketika penculikan terjadi, Wiranto menjabat Panglima ABRI.

Sementara itu, Profesor  Hermawan Sulistyo mengatakan, lolosnya Prabowo Subianto sebagai calon presiden juga menjadi tamparan bagi pemerintah saat ini yang tak berkomitmen menuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM dan memperjuangkan amanat reformasi.
Kasus-kasus pelanggaran HAM seperti penculikan para aktivis dan pembunuhan mahasiswa serta aktivis dibiarkan tak terselesaikan.


"Pemerintah Indonesia sampai saat ini tidak membentuk pengadilan HAM. Harusnya, penjahat kemanusiaan seperti Prabowo diseret ke pengadilan HAM internasional," ujarnya.


Secara administratif, Hermawan melanjutkan, Prabowo lolos persyaratan KPU. Termasuk, persyaratan hukum. Namun, syarat yang ditetapkan KPU sebagai bakal calon presiden adalah bebas dari kejahatan kriminal yang dilegalkan melalui surat keterangan catatan kriminalitas dari kepolisian.
 "Semua yang dia (Prabowo) lakukan adalah kejahatan kemanusiaan. Dan itu bukan ranahnya polisi. Padahal, kejahatan ini sangat berbahaya dan berlawanan dengan konstitusi," paparnya.


Penculikan dan pembunuhan sejumlah aktivis hanya menyeret 10 anggota Tim Mawar dari Kopassus ke mahkamah militer. Sedangkan, Prabowo yang saat itu masih menantu Presiden Soeharto hanya dibawa ke Dewan Kehormatan Perwira. Dan di dalam pemeriksaan tersebut Prabowo Subianto menggunakan hak untuk tidak bicara.


Anggota Tim Mawar, imbuhnya, hanya operator yang rata-rata berpangkat letnan kolonel. Artinya, ada atasan mereka yaitu perwira tinggi yang harus bertanggung jawab atas tindakan sepuluh anggota Tim Mawar tersebut. Saat itu, 13 aktivis diculik. Kemudian, ada 6 aktivis yang ditenggelamkan di Lampung ditemukan mati dengan kaki diberi pemberat. Dari hasil pemeriksaan DKP, ada korban yang dibuang ke laut dan ada pula yang dikubur di TPU Pondok Ranggon Jakarta Timur.
"Masyarakat Indonesia harus tahu dan melihat isi surat pemcatan Prabowo. Supaya benar-benar tahu bahwa Prabowo dipecat karena memang melakukan pelanggaran," ujarnya.
 
KOTA TANGERANG
Cari Informasi Keimigrasian Lebih Mudah, Warga Tangerang Bisa Akses Layanan SAPA Imigrasi

Cari Informasi Keimigrasian Lebih Mudah, Warga Tangerang Bisa Akses Layanan SAPA Imigrasi

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:28

Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Non TPI Tangerang terus memperkuat komitmennya dalam memberikan pelayanan publik yang profesional dan responsif.

MANCANEGARA
Ameba Pemakan Otak Mulai Muncul di Berbagai Negara, Ilmuwan Khawatir Kasus Terus Bertambah

Ameba Pemakan Otak Mulai Muncul di Berbagai Negara, Ilmuwan Khawatir Kasus Terus Bertambah

Selasa, 14 Juli 2026 | 13:48

Kematian Jordan Smelski, bocah berusia 11 tahun asal Amerika Serikat, akibat infeksi langka yang disebabkan Naegleria fowleri atau “ameba pemakan otak”, kembali menjadi sorotan setelah para ilmuwan memperingatkan potensi penyebaran organisme tersebut

OPINI
Supervisi yang Membina, Bukan Sekadar Menilai

Supervisi yang Membina, Bukan Sekadar Menilai

Jumat, 30 Oktober 2026 | 18:29

Bagi sebagian guru, kata “supervisi” masih terdengar seperti jadwal ujian: tegang, penuh persiapan dadakan, lalu lega ketika selesai. Padahal supervisi dirancang untuk membantu guru bertumbuh. Jika hanya berhenti pada pengisian instrumen

BANDARA
Jadi Pintu Gerbang Indonesia, Menteri Pendidikan Sayangkan Tulisan Bahasa Inggris Dominan di Bandara Soekarno-Hatta

Jadi Pintu Gerbang Indonesia, Menteri Pendidikan Sayangkan Tulisan Bahasa Inggris Dominan di Bandara Soekarno-Hatta

Kamis, 29 Oktober 2026 | 20:58

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyinggung penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik yang dinilainya masih kalah dominan dibandingkan bahasa Inggris.

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill