Connect With Us

Ongkos Taubat Nasuha, Kisah Nyata Seorang Wartawan Menjemput Iman

Mohamad Romli | Jumat, 26 Juni 2020 | 09:46

| Dibaca : 1292

Buku Menjala Pahala dengan Salat. (@TangerangNews / Mohammad Romli)

TANGERANGNEWS.com-Taubat untuk menjemput dan meraih ampunan Allah SWT bukan hal mudah. Menuntut tekad yang kuat dan konsistensi. Perlu metode untuk terus menguatkan iman kala melemah. Butuh latihan untuk menggapai ikhlas.

Mereka yang telah membulatkan tekad untuk kembali taat kepada-Nya, dengan segala cara akan melakukan apapun untuk tetap istikomah, meski godaan syetan pun semakin besar.

Bagaimana Cara Istikomah?

Diceritakan sebelumnya pada judul artikel Dahsyatnya Sedekah : Kisah Nyata Seorang Wartawan Menjemput Iman, seorang sahabat penulis menceritakan asal mula ia kembali meraih getaran iman. Pada artikel kali ini, penulis akan menceritakan bagaimana ia berjuang tetap istikomah atas nikmat iman yang kini telah dirasakannya.

Baca Juga :

Antara Sedekah & Taubat Nasuha

Jam menunjukkan pukul 13.00 WIB, sobatku itu sudah tiba di kantor redaksi kami. Tampak ia membawa beberapa bungkusan di dalam plastik dan goody bag.

Diantara beberapa bungkusan itu, aku melihat satu bungkus sajadah, cemilan, serta beberapa buku kecil. Namun, aku tidak bisa memastikan isi goody bag yang bobotnya tampak lebih berat.

"Assalamu'alaikum," ucapnya sambil melepas sepetu di depan pintu kantor. Kantor kami yang kecil ini sebenarnya adalah rumah yang kami sulap menjadi kantor. Maklum, kami hanya media lokal yang belum memiliki kemampuan finansial yang cukup untuk bisa memiliki sarana yang benar-benar layak disebut kantor.

"Wa'alaikumsalam," jawabku kala itu tengah di depan komputer mengedit beberapa naskah berita yang dikirim dari reporter.

Dengan senyum sumringah, ia menghampiriku dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Aku menyambutnya juga dengan perasaan riang karena banyak sekali yang berubah dari sobatku ini setelah ia mendapatkan kembali jalan iman. Kelembutan lisannya, serta kehangatan tatapannya, juga ketenangan wajahnya, yang lebih banyak tersenyum.

Aku melihat ia seperti tak banyak lagi menanggung beban pikiran, berbeda dengan sebelumnya. Wajahnya selalu tampak murung, kadang seperti penuh amarah, kadang juga tampak sedih.

Namun, wajah yang tak enak dipandang itu kini telah berubah. Aku kerap seperti menyaksikan kilatan cahaya, terlebih saat ini tengah tersenyum. Senyum yang aku ibaratkan seperti seorang pria yang baru saja menikahi seorang gadis, usai kedua saksi menyatakan sah akad nikah yang diucapkannya.

Setelah berjabat tangan, ia meletakkan barang-barang yang dibawanya di atas meja. Kini aku tahu, ternyata goody bag yang tampak berat itu berisi buku.

"Buku ini aku titip di kantor, agar teman-teman bisa mengisi waktu luang dengan membaca, jika berminat,' ucapnya.

Mataku melirik tajam ke arah buku yang jumlah halamannya belum bisa aku tebak, kira-kira mendekati seribu halaman.

"Pantas tampak berat, ternyata bukunya tebal banget," bisik hatiku.

Setelah diletakkan di meja di dekatku, aku membaca judul buku tebal itu : Ensiklopedia Akhir Zaman, penulisnya Dr. Muhammad Ahmad Al-Mubayyadh.

"Aku beli buku ini, saat Ramadan kemarin. Kebetulan aku lihat kajiannya di YouTobe, lalu tertarik membelinya. Tapi, jujur belum aku baca, karena aku masih membaca buku yang lain," ucapnya lagi.

"Maksudku, mungkin kamu bisa membacanya, lalu menceritakan isinya kepadaku," selorohnya sembari tertawa kecil. Tawa yang khas.

Aku mengernyitkan dahi mendengar candanya. Hatiku kembali berbisik, jangankan buku setebal ini, juz amma aku belum khatam dan hapal semua.

"Ya, minimal dengan membaca judulnya saja, kita selalu diingatkan bahwa kiamat itu pasti akan datang, betul kan, saudaraku?" ucapnya lagi yang aku jawab dengan anggukan kecil.

Namun, kata-katanya ini, seperti menghujam tepat dijantungku. Ah, kata kiamat aku dengar sejak belia, namun sampai detik ini, belum juga aku pahami esensinya, juga belum membuat aku merinding saat mendengar diucapkan. Ah, imanku ini memang benar-benar tak ada seujung kuku.

Aku lalu tertarik ia menceritakan bagaimana hari-harinya kini, terutama setelah ia menyatakan taubat nasuha. Apa yang dilakukannya untuk mempertahankan keyakinan dan keimanannya kepada Allah SWT.

"Bro, gimana sih cara istikomah, kan enggak mudah tuh? Aku pengen kamu cerita dari pengalaman kamu," tanyaku sambil bangkit dari tempat duduk menuju ruang tamu karena aku lihat sobatku ini tengah menuju ke sana sambil menenteng cemilan yang dibawanya. 

Aku pun bergegas menuju dapur untuk mengambil piring. Tadi, ia sempat berucap kalau cemilan itu untuk kudapan saat kami rapat redaksi. Ini hal pertama yang ia lakukan setelah kami sama-sama bekerja selama sekitar empat tahun di kantor ini.

Setelah selesai memindahkan kudapan ke piring, aku dan sobatku itu mulai duduk di kursi sofa yang motifnya mirip kulit harimau.

"Kalau kamu mau ke Jakarta, apa persiapan yang kamu lakukan, bro?" Ia justru balik bertanya yang membuat aku heran.

Tapi, aku maklum, karena sobatku ini aku kenal pribadi yang kritis, meski kadang menyebalkan, karena setiap kali bertanya, selalu berbau logika. Ia menuntut jawaban yang tidak hanya sekedar retorika, kerap menuntut data dan fakta.

Oh ya, kebiasaannya itu karena ia penikmat filsafat, sama sepertiku. Hanya saja, aku lebih suka bacaan filsafat yang ringan-ringan saja. Sementara dia, sejak semester satu kala menempuh pendidikan di bangku kuliah yang tak sempat dituntaskannya, bacaannya sudah berat untuk ukuran kami, Karl Marx, Friedrich Nietzsche, Jasques Derrida. Sementara aku, paling bacaanku Kahlil Gibran, modal aku menggaet cewek-cewek di kampus (Astagfirullah, itu dulu. Sekarang Insyaallah sudah enggak, karena sudah berkeluarga).

Bacaan itu pula yang membuatnya kerap tampak seperti pemikir serius. Ia mempertanyakan segala sesuatu, terutama soal ketidakadilan. Aku ingat betul, ia sampai menggugat Tuhan, ketika kami berdiskusi soal kasus Marsinah, Udin (wartawan yang dibunuh karena berita), Wiji Tukul, dan kala berdiskusi soal kemiskinan.

Kegelisahan itu ia terus bawa hingga detik terakhir ia yang aku sebut mendapatkan hidayah. Aku yakin, hal yang ia sebut telah berbuat dosa besar, terdorong juga karena kegelisahannya pada kenyataan hidup yang dulu kerap ia sebut penuh ketidakadilan. Maklum, ia aktivis mahasiswa, kemudian aktivis buruh, terakhir aktivis lingkungan.

Di tengah lamunanku, sobatku ini tiba-tiba menepuk bahuku yang membuat aku gelagapan.

"Hey, ditanya kok bengong? Mikirin apa? Jangan terlalu banyak mikir deh, lebih baik action," serunya yang membuat aku kembali sadar belum menjawab pertanyaannya.

"Aku enggak mikir apa-apa, hanya teringat kamu sekarang berubah banget. Beda dengan dulu. Aku bersyukur sekali," jawabku sambil memalingkan wajah ke arah layar ponsel, mengecek pesan yang masuk.

Setelah mengetikkan beberapa kalimat di layar ponselku, aku letakkan kembali di atas meja. Kini, aku telah siap menjawab pertanyaannya.

"Logikanya, ya kalau mau ke Jakarta, harus ada bekal dan ongkos lah bro. Masa mau jalan kaki atau naik sepeda," jawabku ringan sambil nyengir.

"Tepat. Kali ini, kamu tak perlu buka buku referensi untuk menjawab pertanyaanku," jawabnya cepat, juga sambil tertawa kecil.

"Ah, jangan membuka luka masa lalu. Aku memang kerap kalah debat, makanya aku berusaha mematahkan argumenmu dengan teori, hehehe," kataku.

Sesaat kami terdiam, aku meraih satu kudapan di depanku. Ah, rasa pisang goreng ini tenyata nikmat sekali. Kenikmatan itu aku rasakan, mungkin karena memang aku belum memasukkan nasi ke dalam lambungku, meskipun ini sudah masuk waktunya jam makan siang.

"Betul bro. Kalau mau ke Jakarta, kita butuh ongkos. Demikian pun saat kita akan menuju Allah," kali ini suaranya terdengar serius. Aku langsung menegakkan dudukku, kebiasaanku saat akan menyimak hal-hal serius yang harus aku cerna dengan penuh seksama.

"Makanya, kamu masih ingat kan tiga doa aku. Aku minta kepada Allah ampunan-Nya, hidayah-Nya dan salat yang khusyu. Ketiga hal itu, bagiku modal dasar taubat nasuhaku. Tapi, aku kan awam banget soal agama, satu-satunya sumber pengetahuanku saat ini, ya kata hatiku. Aku merasakan getaran bahwa aku lebih banyak terkoneksi dengan Allah," turutnya.

"Jika datang waktu salat, aku segerakan di awal waktu. Lalu, aku berusaha salat sekhusyu mungkin. Meski itu berat dan susahnya minta ampun. Karena, aku punya pengalaman religius di usia remaja soal salat, bro," sambungnya.

"Kala itu, aku baru lulus SMA. Tidak ada aktivitas karena aku tidak bisa langsung lanjut kuliah, juga belum mencari pekerjaan. Kegiatanku cuma nonton tv, baca buku, makan, tidur. Lalu, aku berusaha juga untuk selalu salat dan puasa sunah hari Senin dan Kamis. Salat sunah juga aku lakukan, terutama Dhuha dan Tahajud. Amalan lainnya, aku sering membaca surat Ya Sin usai salat, bahkan jelang salat," terangnya lagi.

"Lalu, satu hari, aku munajat kepada Allah. Apa hal pertama yang harus aku perbaiki dalam hidupku. Munajat itu terus aku lakukan setiap waktu. Hingga akhirnya, aku bermimpi ada cahaya putih, dari balik cahaya itu kemudian muncul satu buku yang berjudul Menjala Pahala dengan Salat. Buku itu terjemahan dari Kitab Ihya Ulumuddin bab "Assarus Shalat". Kitab yang ditulis oleh Imam Ghazali," ia menghela napas panjang.

Aku melihat matanya menerawang ke langit-langit kantor. Lalu, mengucapkan istigfar berkali-kali. Setelah berhasil mengatasi hal yang mungkin mengganggu pikirannya, ia melanjutkan ceritanya.

"Buku itu dimiliki guruku, guru idolaku di SMP. Aku mencuri buku tersebut dengan niat aku pelajari, namun tak pernah aku lakukan," sambungnya dengan nada penuh penyesalan.

"Lalu, dimana buku itu sekarang?" Aku spontan bertanya karena ingin tahu apakah buku tersebut masih ada atau sudah entah dimana rimbanya. Karena aku juga sangat tertarik setelah mendengar mimpi sobatku ini.

"Hilang," singkatnya.

"Hah, kok bisa. Biasanya kamu akan menjaga buku-buku berharga bahkan hingga tetes darah penghabisan," protesku.

"Tenang, tenang! Aku sudah membeli lagi, meski susahnya minta ampun. Tapi, alhamdulilah dapat juga," jawabannya cukup menenangkanku.

"Nah, setelah mimpi itu, aku pernah mengalami satu hal yang tak bisa aku lupakan selama hidupku. Saat aku salat, tiba-tiba aku tidak bisa menggunakan otakku untuk menginstruksikan anggota badan bergerak sesuai gerakan salat. Aku seperti orang mati, hanya berdiri mematung, tapi juga tidak bisa membatalkan salat tersebut," katanya.

"Hah, serius kamu, bro," tanyaku dengan nada meninggi.

Ia menganggukkan kepala. Tampak di wajahnya ada ekspresi kehilangan.

"Lalu, kok baru sekarang cerita?" Aku makin penasaran mendesak ia melanjutkan ceritanya. Ia tak menjawab pertanyaanku, namun melanjutkan ceritanya.

"Aku mengira, kala itu aku antara sadar dan tidak sadar. Tapi, kalau tidak sadar, aku kan dalam posisi salat. Aku sudah seperti mayat hidup. Hanya mampu berfikir, tapi tidak mampu menggerakkan anggota badanku setelah takbir pertama," katanya dengan suara bergetar.

"Setelah takbir, karena mungkin  khusyu, hatiku terasa kosong. Tidak ada gemuruh dan suara apa-apa di sana. Lalu, seperti biasa aku membaca surat Al Fatihah, dan satu surat lainnya," lanjutnya.

"Tapi, ketika aku mau ruku', tiba-tiba aku tidak bisa bergerak. Tubuhku kaku, lalu aku menjerit dalam hati, memohon kepada Allah agar tubuhku bisa digerakkan. Namun, tidak juga bisa digerakkan,". Kini, aku mulai melihat pipinya memerah. Bola matanya berkaca-kaca.

Tetesan air hangat itu, mulai membasahi pipinya. Ia tak sanggup lagi membendungnya. Aku yang turut larut, pun merasakan hal serupa. Tiba-tiba, air yang terasa hangat itu, jatuh dan tepat menyentuh tanganku.

"Ada dua hal yang aku rasakan, antara takut dan harap. Aku takut sekali, takut tidak bisa keluar dari salat, dan terus mematung. Sementara, harapku tubuhku bisa aku gerakkan untuk melakukan gerakan salat berikutnya," ia melanjutkan ceritanya.

"Lalu aku benar-benar memohon kepada Allah, dengan menangis meraung-raung yang suaranya aku tahan. Tubuhku bergetar, hatiku meratap, memohon agar aku bisa ruku',". Tubuhku pun ikut terasa merinding.

"Tiba-tiba, setelah ratapan itu, tubuhku bisa bergerak untuk ruku', tapi tulang-tulangku terasa bergemulutuk, beradu antar tulang, dan rasanya sakit sekali. Tangisku semakin menjadi, karena menahan rasa sakit,". Tubuhku yang merinding kini bergetar, aku tak kuasa ikut merasakan apa yang dialami sobatku ini.

"Saat akan kembali dari ruku' ke posisi tegak, tubuhku kembali tak bisa digerakkan. Aku kembali meratap, memohon kepada Allah agar bisa melanjutkan salatku. Setelah aku benar-benar meminta, tubuhku terasa bergerak sendiri,". tubuhnya mulai terlihat bergetar juga.

"Jadi, yang mampu menggerakkan aku dalam salatku itu doa, bukan intruksi otak. Setelah berhasil melaksanakan semua gerakan, aku menutup salatku dengan salam. Semua terasa sangat ringan, tubuhku, pikiranku, bahkan beban yang selama ini aku tanggung sebagai pengangguran," ia menghela napas dalam. Kemudian melirik ke arahku.

"Itulah salat terindah yang pernah aku alami. Aku sulit menjelaskan, kenapa itu terjadi. Tapi, setelah salat itu, penglihatanku terasa terbalik, yang tampak di mataku, semua indah. Saat aku menyalakan Tv, aku menonton siaran berita. Pembaca berita yang tidak mengenakan jilbab pun, oleh mataku terlihat memakai jilbab. Indaaah sekali, saudaraku," ia mulai tersenyum.

"Aku selalu berdoa bisa kembali meraih salat demikian," sambungnya.

"Subhallah, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, bro. Selain takjub," kataku yang mulai menelisik ke dalam hati. Boro-boro aku bisa salat seperti itu, wong salatku saja hanya gerakan fisik semata, tidak paham yang aku baca, hati dan pikiranku pun kerap masih memikirkan urusan-urusan duniaku, meski tengah salat sekali pun.

Tiba-tiba, aku merasa sangat terguncang. 

Dadaku terasa sesak, aku teringat pesan ustadz yang biasa mengisi pengajian di masjid tempat aku kadang-kadang salat berjamaah.

Ustadz itu pernah mengatakan, amalan yang pertama dihisab adalah salat, jika salat kita sempurna, maka diterimalah salat beserta amal lainnya. Namun, kalau salat kita kurang, dikembalikan salat itu kepada kitazm, berikut semua amal kita. Kalau dalam tafsirku sebagai orang awam, ditolak! Meski kita sudah merasa banyak berbuat kebajikan.

"Ya Allah, ampuni aku yang lalai dengan salatku," hatiku berbisik lirih.

"Bro, gimana caranya ya belajar salat yang benar sesuai tuntunan syariat," tiba-tiba aku bertanya kepada sobatku ini.

Ia menggelengkan kepala.

"Kita harus mencari guru, saudaraku. Guru yang benar-benar paham. Guru yang telah mempraktikkan satunya kata dan perbuatan. Guru yang telah memetik buah dari kekhusyuan salatnya, yaitu akhlak yang mulia," jawabnya.

"Dimana ya bisa mendapatkan guru seperti itu?" tanyaku.

"Entahlah, tapi Allah akan menjodohkan kita dengan sosok seperti itu. Kalau kita memang terus memintanya," jawabnya lagi.

"Tapi, sebelum kita benar-benar menemukan guru, sekarang hal yang aku lakukan adalah mengatasi gangguan ingat dunia saat salat. Biasanya, kita salat cuma hanya gerakan fisik, enggak paham apa yang diucapkan, hati sibuk berbisik tentang hal-hal dunia, pikiran pun demikian,". Ah, ia menyebutkan hal yang tengah bergemuruh di sanubariku.

"Caranya," tanyaku lagi.

"Kalau kita sibuk mengingat dunia, artinya kita memang terlalu mencintai dunia," jawabnya dengan intonasi meninggi.

Aku termenung. Sobatku ini menyatakan kebenaran lagi. Kalau aku mencintai sesuatu, pasti selalu mengingatnya.

"Matodenya?" desakku lagi.

"Ya kita harus berusaha melepaskan harta yang kita punya, kita belanjakan di jalan Allah sebanyak-banyaknya, dan rutin. Kalau bisa setiap hari, dengan nilai yang terus bertambah. Ini latihan kita mengurangi rasa cinta dunia dan latihan ikhlas," terangnya.

"Maksudnya, sedekah dan infaq setiap hari?" Tanyaku menyakinkan.

Ia menganggukkan kepala.

"Itu yang tengah dan terus aku lakukan. Karena aku kembali meraih getaran iman juga karena perantara sedekah dan infaq, kini aku melakukan hal yang sama untuk meraih kembali salat khusyu," katanya kembali dengan nada mantap.

Tiba-tiba aku bangkit dari dudukku menuju ruang redaksi. Aku mengeluarkan dompet dan menemukan ada selembar Rp50 ribu dan dua lembar Rp100 ribu.

Aku mengeluarkan lembaran Rp50 ribu dari dompetku, lalu memasukannya di saku celana. Aku kembali bergegas keluar, kini tujuanku adalah masjid terdekat dari kantorku. Ini adalah infaq pertamaku dan akan aku lakukan setiap hari dengan nominal yang sama , sampai aku bisa menambah jumlah nominalnya lagi.

Melihat aku bergegas meninggalkan kantor, sobatku itu tampak bertanya-tanya.

"Hei, kok buru-buru, mau kemana?" tanyanya saat aku keluar kantor dan menyalakan sepeda motorku.

"Menuju rumah Allah, masjid," jawabku sambil tersenyum dan mengepalkan tangan, simbol semangat menjadi pejuang sedekah sebagai ongkos demi meraih salat yang khusyu.

Oleh : Mohamad Romli

Redaktur http://tangerangnews.com/.

TagsOpini
WISATA
Menikmati Suasana Asri di Situ Lengkong Tangsel

Menikmati Suasana Asri di Situ Lengkong Tangsel

Sabtu, 13 Juni 2020 | 13:00

TANGERANGNEWS.com-Di tengah hiruk pikuk Kota Tangerang Selatan (Tangsel), ternyata terdapat ruang terbuka hijau yang menjadi tempat favorit

HIBURAN
Pocari Sweat Gelar Lomba Lari Virtual

Pocari Sweat Gelar Lomba Lari Virtual

Senin, 13 Juli 2020 | 13:11

TANGERANGNEWS.com-Pocari Sweat, minuman isotonik pengganti cairan

KAB. TANGERANG
Aetra & Perumdam TKR Teken Kerjasama Suplai Air untuk Wilayah Rajeg

Aetra & Perumdam TKR Teken Kerjasama Suplai Air untuk Wilayah Rajeg

Kamis, 16 Juli 2020 | 18:39

TANGERANGNEWS.com-PT Aetra Air Tangerang bersama dengan Perumdam Tirta Kerta Raharja (TKR) Kabupaten Tangerang menandatangani perjanjian kerjasama suplai air curah, Kamis (16/7/2020)

"Dengan Hidup yang Hanya Sepanjang  Setengah Tarikan Napas, Jangan Tanam Apapun Kecuali Cinta."

Jalaluddin Rumi