Connect With Us

Setop Propaganda Seks Bebas di Kampus Berkedok Anti-Kekerasan Seksual!

Tim TangerangNews.com | Senin, 15 November 2021 | 16:59

Budi Handrianto, Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun, Bogor. (@TangerangNews / Istimewa)

Oleh: Dr. Budi Handrianto, Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun, Bogor.

TANGERANGNEWS.com-Seorang bandar narkoba mendatangi kepala sekolah SMA dan minta kepala sekolah melarang penjualan semua jenis narkoba apa pun kepada para siswa. Tentu seruan ini bagus dan disambut baik oleh kepala sekolah. Namun si bandar narkoba juga minta di ujung aturan itu ditambahkan kata-kata, “kecuali dengan kesepakatan”. Ternyata yang diarah oleh si bandar narkoba bukan larangan jual beli narkoba di sekolah, tapi kesepakatannya itu. Dengan bersepakat, jual beli narkoba bisa menjadi legal.

Itulah yang tengah terjadi dengan Permendikbud No. 30/2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi. Peraturan itu berisi tentang pencegahan kekerasan seksual, tapi yang dimaksud kekerasan seksual di sini “tanpa persetujuan korban”.

Misal di Pasal 5 ayat 2 poin j, termasuk kekerasan seksual adalah “membujuk, menjanjikan, menawarkan sesuatu atau mengancam korban untuk melakukan transaksi atau kegiatan seksual yang tidak disetujui oleh korban”. Berarti kalau disetujui korban, jadilah transaksi seksual itu. Ini sebenarnya propaganda kebebasan seksual, tapi kedoknya pencegahan terhadap kekerasan seksual. Mirip peribahasa “musang berbulu ayam”.

Permendikbud ini muncul diduga keras atas masukan kaum feminis liberal karena isinya persis Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS) yang sudah ditolak masyarakat luas dan DPR pada periode 2014-2018. Mengapa DPR dan masyarakat luas menolak RUU ini, ya karena bertentangan dengan Pancasila, terutama sila pertama dan kedua. 

Isi RUU P-KS dan Permendikbud ini terasa asing bagi kita bangsa Indonesia karena bertentangan dengan Pancasila. Maka, sudah seyogyanya Mas Menteri mencabutnya. Juga Pak Menag yang sudah mengadopsi untuk perguruan tinggi Islam. Ini berbahaya dan bisa menjadi preseden buruk buat generasi mendatang.

Budaya kita tidak mengenal istilah atau prinsip sexual consent atau kesepakatan seksual. Prinsip ini seakan-akan ingin mengatakan, zina boleh saja asal sama-sama sepakat. Perkosaan boleh asal si korban senang, seperti mereka sedang melakukan eksperimen seksual. Boleh praktik LGBT asal sama-sama suka. Budaya seks bebas dan seks menyimpang bukan budaya bangsa kita yang berdasar Pancasila.

Lalu, bagaimana terhadap kekerasan seksual yang tanpa ada “embel-embel kesepakatan”? Bagaimana kalau nanti benar-benar terjadi kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi? Semua peraturan yang diusung di dalam Permendikbud itu sudah ada dalam hukum dan perundang-undangan di Tanah Air.

Semua sudah dicakup dalam KUHP dan UU lain. Bahkan perempuan yang, missal, disentuh bagian sensitif tubuhnya atau dibully dengan kata-kata yang tidak senonoh, bisa melaporkan ke pengadilan dengan pasal Perbuatan Tidak Menyenangkan (Pasal 310) atau pasal pencemaran nama baik dan sebagainya. Banyak cara kalau mau. Lalu untuk apa dibuat lagi hukumnya?

Akhirnya, kita ingin mengingatkan bahwa para pejabat itu dilantik oleh presiden dan disumpah di bawah Alquran agar tidak berkhianat terhadap Pancasila dan UUD 1945. Jika ada peraturan di bawahnya yang bertentangan dengan dasar negara, janganlah didukung, kalaulah sudah ada segeralah dicabut. Itu tugas dan amanah bagi pejabat yang sudah disumpah presiden.

Jangan sampai kita meninggalkan warisan yang akan dikenang anak cucu sebagai peletak dasar peraturan yang menyelisihi dasar negara, agama dan budaya bangsa. Liberalisme dan feminisme merupakan produk Barat yang tidak sesuai dengan kultur masyarakat kita yang relijius dan bersahaja. Bukan kita anti-Barat, tapi yang bertentangan dengan budaya bangsa kita ya jangan kita ambil apalagi diterapkan.

Marilah kita berpikir jernih. Masyarakat kampus jangan dibodohi dengan kalimat propaganda seperti itu. Di masyarakat awam mungkin kaum feminis dan liberal bisa leluasa melenggang menyampaikan propaganda seks bebas ini. Tapi masyarakat kampus merupakan masyarakat yang berpikir kritis. Segala sesuatunya didiskusikan dan diseminarkan. Hanya gara-gara tidak berani berdebat lalu dipakai jalan kekerasan melalui aturan yang wajib diterapkan. Kalau tidak menerapkan, petinggi kampus akan dihukum, dipecat, dicopot jabatan, ditunda kenaikan pangkatnya, disetop bantuan penelitiannya dan sebagainya. Sebuah cara-cara yang tidak patut untuk dunia ilmiah seperti perguruan tinggi.

Maka, sudahlah. Setop propaganda kebebasan seksual di perguruan tinggi dan di mana pun di Bumi Pertiwi ini. Apalagi dengan berkedok pencegahan dan penangan kekerasan seksual segala serta berperan seolah-olah sebagai korban. Setop sandiwara ini. Semua sudah jelas, “cetho welo-welo” kata orang Jawa.

Tugas kita sebagai civitas akademika kampus hanya mengingatkan bapak-bapak di atas itu. Sebab, manusia bisa saja pandai, tapi ia juga bisa lalai. Namun jika sudah diingatkan tidak juga sadar, bahkan ngotot, ini tanda-tanda kematian dunia ilmiah dan akal sehat di perguruan tinggi. Dan kita berlindung kepada Allah SWT dari hal demikian.

TagsOpini
MANCANEGARA
Ameba Pemakan Otak Mulai Muncul di Berbagai Negara, Ilmuwan Khawatir Kasus Terus Bertambah

Ameba Pemakan Otak Mulai Muncul di Berbagai Negara, Ilmuwan Khawatir Kasus Terus Bertambah

Selasa, 14 Juli 2026 | 13:48

Kematian Jordan Smelski, bocah berusia 11 tahun asal Amerika Serikat, akibat infeksi langka yang disebabkan Naegleria fowleri atau “ameba pemakan otak”, kembali menjadi sorotan setelah para ilmuwan memperingatkan potensi penyebaran organisme tersebut

WISATA
Festival Cisadane 2027 Bidik Target 10 Besar Karisma Event Nusantara

Festival Cisadane 2027 Bidik Target 10 Besar Karisma Event Nusantara

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:46

Penyelenggaraan Festival Cisadane 2026 Kota Tangerang resmi berakhir dengan antusiasme masyarakat yang meriah.

KOTA TANGERANG
Kemarau, Kementerian PU Pastikan Pasokan Air Pintu Air 10 Tangerang Masih Aman

Kemarau, Kementerian PU Pastikan Pasokan Air Pintu Air 10 Tangerang Masih Aman

Rabu, 29 Juli 2026 | 19:51

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memastikan pasokan air dari Sungai Cisadane masih aman hingga beberapa bulan ke depan saat musim kemarau ekstrem.

HIBURAN
Peringati HAN 2026, Hotel Santika Indonesia Ajak 43 Anak Jadi General Manager Sehari

Peringati HAN 2026, Hotel Santika Indonesia Ajak 43 Anak Jadi General Manager Sehari

Rabu, 29 Juli 2026 | 16:10

Santika Indonesia Hotels & Resorts kembali menggelar program GM For A Day 2026 dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional.

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill