TangerangNews.com

Jurnalis Tangerang ini Mendongeng hingga ke Lampung Selatan

Mohamad Romli | Minggu, 13 Mei 2018 | 19:00 | Dibaca : 594


Budi Sabarudin, salah satu jurnalis Tangerang saat mendongeng di dua tempat yaitu di Kecamatan Kalianda dan Kabupaten Lampung Selatan. Minggu (13/5/2018) (@TangerangNews / Mohamad Romli)


TANGERANGNEWS.com-Budi Sabarudin, salah satu jurnalis Tangerang selain berprofesi sebagai pewarta juga dikenal sebagai pendongeng. Bahkan kiprah pria yang akrab disapa Budi Euy ini telah merambah hingga ke Lampung Selatan. Minggu (13/5/2018), Budi mendongeng di giat dua tempat di Kecamatan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan.

Dua tempat itu di Yayasan Baitul Ulum Al Hidayah Jalan Kesuma Bangsa, Kelurahan Way Urang dan di Taman Alquran Jalan Trans Sumatera, Kelurahan Tajimalela.

Di Yayasan Baitul Ulum, Budi Euy membawakan dongeng "Raja si Buruk Rupa", sedangkan di Taman Alquran dongeng "Ular yang lapar, induk ayam dan lima ekor anaknya serta petani yang bijaksana".

"Pertunjukan teater dongeng saya, di sana ditonton oleh anak TK, SD, SMP, SMA dan ada juga mahasiswa, termasuk guru-gurunya. Jumlahnya mencapai 400 orang," kata Budi Euy.

Dia juga mengaku pada saat melawat ke Lampung Selatan sangat gembira, karena anak-anak serta guru disana menyambutnya dengan antusias. Apalagi di Lampung Selatan, khususnya di Kalianda jarang sekali didatangi pendongeng.

Dijelaskan Budi Euy, lawatannya ke Lampung Selatan itu dalam rangka keliling Indonesia untuk nusantara mendongeng dengan tagline Sedekah Dongeng Keliling Nusantara.

"Sedekah dongeng keliling nusantara ini diprogramkan selama tiga tahun. Saya sudah keliling juga ke Provinsi Jawa Barat, Provinsi Banten, Nusa Tenggara Timur, dan sekarang ini ke Provinsi Lampung," tambahnya.

Menurut dia, agenda keliling Indonesia untuk nusantara mendongeng ini akan diteruskan ke Yogjakarta, Malang, Lombok dan Pontianak, dengan tujuan mendidik, mencerahkan, serta menghibur anak-anak serta merawat dongeng sebagai kekayaan tradisi dan budaya Bangsa Indonesia.

Dalam setiap lawatannya, menurut Budi Euy, dirinya berupaya juga menyusupkan pesan-pesan kepada anak-anak tentang apa itu musuh-musuh generasi muda yakni rokok, obatan-obatan terlarang, narkoba, minuman keras, bullying, pergaulan bebas, LGBT, dan tawuran.

"Saya juga menyampaikan pesan-pesan pentingnya lainnya seperti menjaga kebersihan, jangan buang sampah sembarangan, jangan buang sampah ke sungai dan ke laut serta pentingnya merawat sumber-sumber air di mana pun berada," katanya.

Tak hanya itu, Budi juga menyampaikan pesan-pesan tentang kebangsaan atau nasionalisme seperti pentingnya mencintai dan menjaga tanah air serta pesan-pesan dakwah seperti datangnya bulan suci Ramadhan yang harus disambut umat Islam.

Bulan Ramadhan itu bulan yang penuh dengan keberkahan dan bagi siapa yang melaksanakannya dengan ridho dan ikhlas hanya untuk Allah Swt akan mendapat pahala dan bahkan masuk syurga.

Budi Euy juga menjelaskan tentang konsep dalam teater dongengnya yang selama ini sering dipentaskan di depan publik, khususnya anak-anak SD, SMP, dan SMA.

"Unsur natural yang ada dalam setiap individu manusia sebagai makhluk bermain, itu yang saya pentaskan dan saya padukan dengan pola-pola teater modern dan tradisi," paparnya.

Menurut Budi Euy, mengutip perspektif kandidat doktor Tatang Macan yang juga seniman teater, dosen dan akademisi teater, secara filosofis konsep pemanggungan dirinya memang memakai unsur natural yang ada dalam setiap individu manusia.

#GOOGLE_ADS#

Konsep itu menggunakan pola-pola permainan yang ada dalam diri manusia sebagau makhkuk bermain untuk mengungkapkan dan menemukan rasa senangnya.

Cara ini diungkapkan Budi Euy dengan melalui unsur naratif dengan perangkat laku peran yang dimain-mainkan sesuai dengan suasana cerita yang dibawakannya.

Pola permainan Budi Euy cenderung memasuki dunia seolah-olah yang direalitaskan seperti nyata, sehingga situasi dongeng berada diantara riil dan ilusif. 

"Materi yang diolah bertitik tolak pada story telling yang beragam dengan isu penceritaan yang berkembang tergantung pada tempat dan waktu di mana setiap dongeng disajikan," tutur Budi Euy mengutip Tatang Macan.(RAZ/RGI)