TangerangNews.com

Meski Produksi Air PDAM TKR Normal Saat Kemarau, Pelanggan Harus Hemat Air

Advertorial | Selasa, 31 Juli 2018 | 21:00 | Dibaca : 1280


Instalasi Pengolahan Air (IPA) PDAM Tirta Kerta Raharja di Cikokol. (@TangerangNews / Mohamad Romli)


TANGERANGNEWS.com-Meski debit air sungai Cisadane menurun karena faktor kemarau, namun produksi air di PDAM Tirta Kerta Raharja (TKR) Cikokol tidak terganggu. Sampai saat ini, produksi air dengan kapasitas 80 liter per detik tetap berjalan normal.

Bahkan, berdasarkan hasil uji laboratorium, tingkat kekeruhan air tetap diambang batas normal, yakni dibawah satu persen NTU (satuan tingkat kekeruhan air berdasarkan Standar Nasional Indonesia/SNI).

Direktur Utama PDAM Tirta Kerta Raharja Rusdy Machmud mengatakan, karena tempat pengambilan air baku (intake) instalasi pengolahan air (IPA) Cikokol tetap berjalan normal, pasokan air untuk konsumen tidak terganggu.

"Tidak ada kendala dengan menurunnya debit air di Sungai Cisadane, produksi air tetap berjalan normal," ujar Rusdy Machmud, Selasa (31/7/2018).

Instalasi Pengolahan Air (IPA) Cikokol merupakan yang terbesar untuk saat ini, selain yang pertama kali dibangun, juga karena relatif stabilnya pasokan bahan baku air dari sungai Cisadane.

Namun Rusdy mengaku, musim kemarau berdampak pada penghentian aktifitas pengolahan air di dua Instalasi Kota Kecamatan (IKK), yakni IKK Kresek dan Kronjo.

IKK Kresek berhenti produksi sementara sejak 10 Juli 2018, demikian pun dengan IKK Kronjo. IKK Kresek yang mampu memproduksi air 15 liter per detik itu dihentikan sementara produksinya akibat tercemarnya air sungai Cidurian sebagai sumber bahan baku. Kondisi pencemaran tersebut sangat parah, sehingga air tidak mungkin diproduksi.

"Kondisi airnya berwarna hitam pekat dan berbau akibat tercemar limbah, kondisi air seperti itu tidak mungkin bisa diproduksi," jelasnya.

Sehingga, untuk terus memenuhi kebutuhan pelanggan disekitar area tersebut, sejak 11 Juli 2018, dilakukan suplai air menggunakan mobil tangki ke area Kresek.

Sementara, IKK Kronjo terhenti aktifitas produksinya karena mengeringnya air sungai Cipasilian serta masuknya air laut ke daratan (rob). Kondisi demikian pun dikatakan Rusdy tidak memungkinkan dilakukan produksi air bersih.

"Sehingga, upaya yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan air bersih pelanggan di Kronjo pun dengan distribusi menggunakan mobil tangki," imbuhnya.

Rusdy pun berharap masyarakat semakin meningkat kesadaran lingkungannya, terutama dalam menjaga kualitas air sungai. Karena, akibat dari menurunnya daya tampung dan daya dukung sungai, masyarakat juga yang terdampak, seperti yang terjadi pada sungai Cidurian.

#GOOGLE_ADS#

"Kesadaran lingkungan ini yang perlu ditingkatkan, karena air merupakan kebutuhan primer kita," imbuhnya.

Ia juga berharap, sungai Cidurian menjadi perhatian serius berbagai pihak terkait, sehingga pencemaran yang terjadi bisa dihentikan.

"Jika tidak ada upaya, kita akan terus mengalami peristiwa serupa. Saat musim kemarau, air dari sungai Cidurian tidak bisa diproduksi," paparnya.

Selain itu, ditekankan Rusdy, bagi pelanggan yang terdampak akibat terhentinya pasokan air disekitar area IKK Kresek dan Kronjo dimintanya untuk lebih menghemat penggunaan air. "Hemat menggunakan air itu bijak, semestinya menjadi budaya hidup kita," tukasnya.(ADV)