Connect With Us

Filosofi di Balik Tarian Nong Anggrek Khas Kota Tangsel

Rachman Deniansyah | Minggu, 6 Oktober 2019 | 19:21

Para penari Nong Anggrek atau Tari Putri Anggrek yang menjadi tarian ikon Kota Tangerang Selatan (Tangsel). (@TangerangNews / Rachman Deniansyah)

TANGERANGNEWS.com-Tari Nong Anggrek atau Tari Putri Anggrek menjadi tarian ikon Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Tarian ini mulai dikenal sejak 2010, saat dikembangkan oleh Sanggar Tari Ragam Budaya Nusantara.

Di bawah binaan Ketua Sanggar Tari Sherly Fatmarita, tarian ini mulai diciptakan. Selain itu, tarian ini juga berada langsung di bawah binaan Dinas Pariwisata Kota Tangsel.

Road Manager Sanggar Tari Ragam Budaya Nusantara Tia Tritiya Rahma menjelaskan, tarian tersebut penuh dengan filosofi, mulai dari gerakan, hingga pakaian para penarinya.

Sesuai dengan namanya, gerakan tarian ini merefleksikan kehidupan bunga Anggrek jenis Vanda Douglas, yang banyak dibudidayakan di Kota Tangsel. 

"Ya geraknya itu melambai, menggambarkan bunga anggrek yang terkena angin, kemudian ditambah gerak bunga anggrek mekar, hingga gerak tumbuhan yang ada di atas permukaan situ (danau)," ucapnya kepada TangerangNews, di Kawasan Area Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), Setu, Kota Tangsel, Minggu (6/10/2019).

Tia menjelaskan, sejak diciptakan, Tari Nong Anggrek selalu dibawakan oleh tujuh penari yang cantik jelita.

"Kenapa tujuh? Karena itu filosofi dari anggrek sendiri. Bunga Anggrek Vanda Douglas itu terdiri dari tujuh hinggga 10 bunga tiap tangkai, tapi setiap panen itu adalah tujuh. Itulah yang menjadi filosofi dari jumlah penari," ungkapnya.

Selain itu, kata Tia, dari segi pakaian pun juga memiliki makna. Ia mengambil filosofi dari Kota Tangsel yang masyarakatnya kebanyakan terdiri dari 4 etnis, yaitu Etnis Betawi, Jawa, Sunda dan Tionghoa. 

"Makannya musiknya juga ada musik tradisional yang biasa dipakai orang Chinese di gambang kromong. Ketika anggrek itu tertutup terlihat seperti mahkota orang Chinese, ketika dia mekar maka terlihat seperti bunga aggrek," tuturnya.

"Tarian ini juga menggunakan rok lebar, kemudian mereka ada gerakan muter tuh, karena kita launching itu 7 penari, 7 anggrek. Selain dari anggrek, itu filosofinya Tangsel memiliki 7 situ, jadi pas roknya mekar itu adalah mencerminkan situ-situ di Tangsel," tambahnya. 

Tia menjelaskan, semua gerakan, serta pakaian yang oenuh filosofi itu tak diciptakan dengan mudah. Melainkan, ia harus melakukan observasi terlebih dahulu. 

"Kita lihat anggrek tersebut, lalu kita foto dari mulai kuncup sampai mekarnya gimana, jadi memang kita benar-benar mengangkat ikon Kota Tangsel," pungkasnya.(RAZ/RGI)

TEKNO
Fundamental dan Teknikal Solana di Akhir Tahun 2026

Fundamental dan Teknikal Solana di Akhir Tahun 2026

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:16

Solana memasuki akhir 2026 dengan sejumlah katalis yang dapat menentukan arah harga SOL. Pertumbuhan ekosistem, aktivitas jaringan, pengembangan aplikasi terdesentralisasi, serta kondisi pasar kripto menjadi faktor fundamental yang perlu

KOTA TANGERANG
Mandaya Royal Puri Buka Limfedema Center untuk Pasien dan Penyintas Kanker Payudara

Mandaya Royal Puri Buka Limfedema Center untuk Pasien dan Penyintas Kanker Payudara

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 17:16

RS Mandaya Royal Puri resmi meluncurkan Limfedema Center pada Sabtu, 17 Oktober 2026,bertepatan dengan momentum Breast Cancer Awareness Month atau Bulan Kesadaran Kanker Payudara.

TANGSEL
Korban Ledakan Pasar Cimanggis Luka Bakar 82 Persen, Pemkot Tangsel Tanggung Biaya Pengobatan

Korban Ledakan Pasar Cimanggis Luka Bakar 82 Persen, Pemkot Tangsel Tanggung Biaya Pengobatan

Jumat, 16 Oktober 2026 | 22:54

Pemerintah Kota (Pemkot) Tangsel memastikan mengawal penanganan medis dan pembiayaan perawatan korban ledakan ruko di kawasan Pasar Cimanggis yang terjadi pada Rabu 14 Oktober 2026, malam.

MANCANEGARA
Ameba Pemakan Otak Mulai Muncul di Berbagai Negara, Ilmuwan Khawatir Kasus Terus Bertambah

Ameba Pemakan Otak Mulai Muncul di Berbagai Negara, Ilmuwan Khawatir Kasus Terus Bertambah

Selasa, 14 Juli 2026 | 13:48

Kematian Jordan Smelski, bocah berusia 11 tahun asal Amerika Serikat, akibat infeksi langka yang disebabkan Naegleria fowleri atau “ameba pemakan otak”, kembali menjadi sorotan setelah para ilmuwan memperingatkan potensi penyebaran organisme tersebut

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill