Connect With Us

Mengenal Lebih dalam Mayjen TNI (Purn) TB Hasanudin

Denny Bagus Irawan | Minggu, 22 Januari 2017 | 05:00

| Dibaca : 5052

Mengenal Lebih Dalam Mayjen TNI (Purn) TB Hasanudin (@tangerangnews 2017 / Raden Bagoes Irawan)

 

 

TANGERANGNews.com-Di sela-sela kesibukannya sebagai Ketua Tim Pemenangan Internal PDI Perjuangan untuk pasangan Rano-Embay, Mayjen TNI (Pur) Tubagus Hasanudin selalu menyempatkan waktu untuk beranjangsana mengunjungi sejumlah kyai dan ulama yang ada di Banten.

TB--sapaan akrab Tubagus Hasanudin--juga acap menziarahi makam para tokoh panutan untuk mengambil pelajaran dari kehidupan dan pengabdian para pendahulu. 

 

Sayangnya, TB Hasanudin memilih irit bicara soal kunjungan itu dengan alasan menghindari riya. TB memang diketahui kerap melakukan kunjungan itu diam-diam.

 

Diakui Tubagus Hasanudin, sejak kecil ia tumbuh dan berkembang dalam kultur relijius yang kuat. Hal inilah yang membentuk kepribadiannya hari ini yang selalu menempatkan kyai dan ulama sebagai sosok sentral yang harus selalu dihormati. 

 

"Sulit bagi saya meninggalkan segala yang pernah ditanamkan sejak kecil dalam hidup saya. Ulama dan kyai menjadi sangat penting hadir di tengah-tengah kita sebagai sumber pengetahuan. Jangan lupa, salah satu musibah besar bagi umat Islam itu adalah wafatnya seorang ulama," tegas TB Hasanudin.

 

TB Hasanudin yang kini aktif sebagai fungsionaris PDI Perjuangan juga dipercaya sebagai Ketua Tim Pemenangan Internal PDI Perjuangan untuk pemenangan pasangan Rano-Embay di pilkada 2017. Ia mengaku bergabung ke PDI Perjuangan karena terinspirasi oleh semangat juang Bung Karno. 

 

"Bung Karno adalah seorang relijius yang mengawali pengendapan gagasan-gagasan besarnya sebagai seorang muslim. Islam adalah inspirasi utama bagi Bung Karno. Itu pula yang membuat saya bergabung bersama PDI Perjuangan. Tidak ada tempat bagi mereka yang Anti Tuhan dan Anti Agama di PDI Perjuangan," tegas TB Hasanudin.

 

Akhlaqul Karimah Jangan Sekadar Jargon

 

Sementara itu, masih di kesempatan yang sama saat dikonfirmasi soal pernyataan Wahidin Halim yang menyebut adanya ancaman kebangkitan PKI dalam pilkada Banten, TB Hasanudin menolak berkomentar. Ia hanya berujar, "Calon pemimpin itu otaknya tak boleh dangkal. Calon pemimpin itu emosinya tidak boleh labil. Calon pemimpin itu pikirannya harus waras. Calon pemimpin tak semestinya gemar berbohong." 

 

TB tak menjelaskan lebih lanjut kepada siapa pernyataan itu ditujukan. Ia hanya menekankan seorang calon pemimpin yang gemar menyebar _hoax_ atau kabar palsu tak ubahnya dengan penabur fitnah.

 

TB Hasanudin yang sejak lama dikenal sebagai jenderal antikomunis kemudian mengingatkan kembali TAP MPRS RI dan peraturan perundangan yang melarang penyebaran ajaran komunis di Indonesia karena bertentangan dengan Pancasila. Karena itu ia berpendapat mereka yang menyebarkan paham komunis bisa dipidanakan. 

 

Namun TB juga mengajak semua pihak belajar dari era tahun 70-an. Pada masa itu isu kebangkitan komunis justru muncul dan sengaja disuarakan oleh penganut komunis sendiri untuk melakukan semacam uji penerimaan di tengah masyarakat. "Yang bilang komunis mau bangkit lagi biasanya justru dilontarkan oleh mereka yang diam-diam berpaham komunis dan gemar menghalalkan segala cara untuk merebut kekuasaan," tegasnya.

 

 

SPORT
LSN Kembali Cari Bibit Atlet Berbakat, Kick off Sub Region II Banten Digelar di Pandeglang

LSN Kembali Cari Bibit Atlet Berbakat, Kick off Sub Region II Banten Digelar di Pandeglang

Senin, 20 Agustus 2018 | 15:19

TANGERANGNEWS.com-Liga Santri Nasional (LSN) kembali digelar untuk keempat kalinya. Ajang pencarian bakat atlet sepakbola dari kalangan pesantren itu untuk

TANGSEL
Warga Pakulonan yang Tenggelam di Cisadane Ditemukan Tewas

Warga Pakulonan yang Tenggelam di Cisadane Ditemukan Tewas

Senin, 20 Agustus 2018 | 17:42

TANGERANGNEWS.com-Nurul Ihsan, 24, warga Kampung Baru RT 02/02, Kelurahan Pakulonan, Kecamatan Serpong Utara yang tenggelam di Sungai Cisadane

OPINI
Tantangan Profesi Polisi Zaman Now

Tantangan Profesi Polisi Zaman Now

Rabu, 18 Juli 2018 | 18:00

TANGERANGNEWS.com-Anak saya yang baru menapaki usia lima tahun terpesona tayangan di sebuah televisi swasta. Di usia yang belum dapat menggunakan nalar sebagai kelengkapan berfikir itu, ia justru telah hapal slogan yang

"Kita tidak boleh menerima nasib buruk dan pasrah menerimannya sebagai kutukan. Kalau kita mau hidup bebas, kita harus belajar untuk terbang"

Gie