TANGERANG-Kampanye terbuka hari pertama
dilakukan pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Tangerang nomor urut 3
Deddy S Gumelar alias Miing - Suratno Abubakar dengan melakukan blusukan ke
sejumlah pasar tradisional, Jumat (16/8). Namun, pasangan ini tidak blusukan bersama, melainkan
berpencar.
Miing bersama istrinya
mendatangi Pasar Babakan dan Pasar Lama, sementara Suratno yang juga ditemani
istrinya ke Pasar Anyar. Puluhan simpatisan mereka juga mengikuti saat
blusukan.
Miing mengatakan, setelah
mengunjungi Pasar Lama, dia ingin membangun China
Town sebagai pusat kebudayaan. Pasalnya disana terdapat Vihara Boen Tek bio
dan Musium Heritage.
"Boen Tek Bio salah satu
klenteng pertama yang saya kunjungi di Kota Tangerang. Saya concern dengan daerah ini karena
memiliki nilai sejarah. Sebaiknya besok dibuat China Town, jadi tidak hanya warga Tionghoa yang bisa
menikmati," ujarnya.
Selain itu kawasan pasar
tradisional juga akan ditata agar lebih nyaman bagi penjual dan pembeli.
Menurutnya pasar tradisional juga merupakan budaya Indonesia yang harus dijaga.
"Di pasar tradisional
terjadi interaksi antara pedagang dan pembeli. Juga menjadi tempat
bersilaturahmi. Ini kan budaya kita. Kalau di supermarket kan individual. Tapi
melihat kondisi yang sekarang, pasar di Kota Tangerang harus
direvitalisasi," katanya.
Terkait aksi blusukan
dirinya, Miing menjelaskan bahwa hal tersebut lebih efektif menjaring pemilih,
dibanding harus kampanye di panggung.
"Perilaku masyarakat
sekarang sudah cerdas. Mereka lebih butuh personal touch dengan menyapa mereka langsung. Kita mencari massa
mengambang yang belum menentukan pilihan, jadi kita ke pasar," katanya.
Sementara Suratno Abubakar
mengatakan, Pasar Anyar butuh direvitalisasi karena kondisinya kurang layak.
Tata letaknya yang tidak tepat membuat pasar menjadi padat dan pengap.
"Mungkin konsepnya akan dibuat seperti
mall, meski tidak benar-benar mirip. Tata letaknya harus luas supaya bisa
nyaman. Karena kalau di pasar tradisional ada interaksi, tidak seperti di mini
market, yang kita datang , ambil lalu bayar," katanya.
Miing juga menyatakan,
masyarakat saat ini juga umumnya kalau punya uang membeli barang lari ke
minimarket. “Tetapi jika tidak punya uang, ngutangnya di warung yang miskin.
Aneh, masyarakat kita lebih senang memperkaya kapitalis,” ujar Miing.