Connect With Us

Gara-gara Game Online, Pemuda Ini Bunuh Satu Keluarga

Rangga Agung Zuliansyah | Senin, 2 Agustus 2021 | 10:15

Tersangka Pembunuhan Akibat Terobsesi Game Online. (Istimewa / Istimewa)

TANGERANGNEWS.com-Salah satu peristiwa yang mengejutkan kembali datang dari Korea Selatan. Tepatnya pada tanggal 23 Maret 2021, telah terjadi pembunuhan satu keluarga yang terdiri dari ibu berusia 60 tahun dan dua anak perempuan berusia 20 tahun, dalam sebuah apartemen di daerah Nowon-gu oleh Kim Tae-hyun, 25.

Pembunuhan ini berawal ketika pelaku mengenal korban berinisial A melalui game online “League of Legends”. Dengan menggunakan username Piglet, pelaku sebenarnya sudah sering berhubungan dengan korban melalui ponsel sejak bulan November 2020, hingga akhirnya pertama kali bertemu di warnet pada awal Januari 2021.

Tepatnya pada tanggal 23 Januari, korban bertemu dengan pelaku dan bermain game bersama dengan dua orang kenalannya. Saat permainan terjadi argumentasi, sehingga menimbulkan percekcokan kecil antara pelaku dan teman korban. Seusai permainan korban A dan tiga temannya memblokir kontak pelaku.

Menurut keterangan dari teman korban, pelaku terus menguntit korban A sejak bulan Januari. Pelaku juga sering kali datang ke apartemen korban dan mengganggunya.

Suatu hari korban menolak panggilan dari pelaku namun pelaku tidak menyerah dan menunggu di daerah kediaman korban selama 8 jam dan akhirnya tidak sengaja berpapasan. Maka korban pun memberi peringatan kepada pelaku untuk tidak mendatangi dan mengganggu korban lagi.

Sampai pada 23 Maret pelaku mendatangi rumah korban, lalu membunuh korban A beserta saudara perempuan dan ibunya. Sebenarnya korban tidak pernah memberi tahu pelaku tentang kediamannya.

Pelaku mengetahuinya dari kotak kurir yang tidak sengaja di foto dan dibagikan korban terhadap pelaku saat korban hendak mengambilnya dari depan pintu.

Diselidiki bahwa pelaku telah merencanakan pembunuhan dengan sangat detail. Sekitar satu minggu pelaku mencari tahu tentang cara menghabisi nyawa korban. Pelaku juga mengirimkan pesan kepada korban melalui akun palsu pelaku dan akhirnya berhasil mendapatkan jadwal jam kerja korban. 

“Saya tidak hanya akan membunuh korban, saya tidak akan segan-segan menghabisi nyawa keluarganya juga,” ujar pelaku. 

Pelaku mempersiapkan senjata tajam yang dibelinya di supermarket dekat rumah korban. Tak hanya senjata tajam, ia juga menyiapkan lakban dan sebuah kotak untuk penyamarannya sebagai kurir.

Tepatnya pada 17.30 waktu petang, pelaku mulai masuk ke apartemen dan berada di dalam lift. Pelaku menyamar sebagai seorang kurir yang hendak mengirimkan paket.

Sesampainya di depan pintu apartemen, pelaku menekan bel namun adik korban menyuruhnya untuk menaruh paket di luar pintu. Tapi pelaku tidak mengindahkan permintaan adik korban. Ia terus menunggu di depan pintu sampai pintu terbuka.

Ketika adik korban membuka pintu, pelaku segera membununya. Pelaku juga menghabisi nyawa ibu korban pada pukul 22.30 malam sesaat ibu korban pulang ke rumah. Korban A yang pulang ke rumah 1 jam kemudian sambil menelpon rekannya pun segera dibunuh oleh pelaku.

Selain itu, sebelum menghabisi nyawa korban, pelaku telah mengetahui pola kunci handphone korban. Pelaku juga membuka komputer dan media sosial korban untuk menghapus daftar pertemanan serta bukti chat pelaku dan korban.

Kepada kepolisian, pelaku mengakui telah merencanakan pembunuhan ini. Ia telah mempersiapkan 1 tas ransel berisi baju ganti. Setelah melakukan pembunuhan pelaku tidak segera pergi melainkan meminum beer, bahkan sampai melukai dirinya sendiri dalam sebuah ruangan kecil.

Investigasi berlanjut setelah pelaku selesai operasi di rumah sakit. Pada tanggal 1 April, keluarga Kim Tae-hyun (pelaku) pindah dan menghilang setelah menerima surat penggeledahan dan penyitaan rumah mereka di Gangnam-gu.

Pada 4 April, Kim Tae-hyun ditangkap setelah diselidiki bahwa adanya risiko melarikan diri dan menghancurkan bukti-bukti yang ada. 

Lalu, pada 5 April, pelaku mengakui bahwa ia dan korban bertemu dan bermain League of Legends bersama. Namun pelaku sakit hati karena tiba-tiba kontaknya diblokir. Sehingga ia melakukan pembunuhan atas dasar kebencian.

Badan Kepolisian Metropolitan Seoul telah melakukan tes psikopat terhadap pelaku. Hasil tes menyatakan bahwa meskipun terdapat karakteristik antisosialitas muncul, namun hal ini tidak cukup untuk mendiagnosis bahwa pelaku adalah seorang psikopat.

Pelaku akan dikenakan pidana Pasal 8-2 Undang-Undang Khusus tentang Hukuman Kejahatan Kekerasan Khusus pada tanggal 5 April. 

Ketika ditangkap pelaku melepas topengnya dan segera menatap ke kamera berlutut dan meminta maaf kepada keluarga yang ditinggalkan. 

“Dilihat dari apa yang ia lakukan, itu bukanlah pola khas seorang psikopat. Pelaku juga terlihat memiliki intelektual yang rendah,” ujar profesor Lee Su Jeong dari Departemen Psikologi.

Perkembangan terakhir, pelaku sedang diperiksa di kantor kejaksaan. Pelaku juga menolak haknya akan tawaran pembelaan oleh pengacara umum.

Oleh: Cynthia Gunawan

HIBURAN
Nagita Ungkap Alasan Pendapatan RANS Turun, Kurangi Ketergantungan Raffi Ahmad

Nagita Ungkap Alasan Pendapatan RANS Turun, Kurangi Ketergantungan Raffi Ahmad

Jumat, 10 Juli 2026 | 16:23

Direktur Utama PT RANS Entertainment Indonesia Tbk Nagita Slavina mengungkap, alasan di balik penurunan pendapatan perusahaan dalam dua tahun terakhir.

BANDARA
Bandara Soetta Sediakan Fasilitas Nobar Gratis Piala Dunia 2026 di Terminal 3

Bandara Soetta Sediakan Fasilitas Nobar Gratis Piala Dunia 2026 di Terminal 3

Sabtu, 11 Juli 2026 | 20:32

Sebagai pintu gerbang utama negara dengan mobilitas penumpang yang sangat padat, Bandara Soetta siap memanjakan para pecinta sepak bola dengan menyediakan lokasi nobar yang strategis di Smmile Center Terminal 3.

TOKOH
Masinis Penyintas Tragedi Bintaro 1987 Slamet Suradio Tutup Usia di Umur 87 Tahun

Masinis Penyintas Tragedi Bintaro 1987 Slamet Suradio Tutup Usia di Umur 87 Tahun

Rabu, 3 Juni 2026 | 15:53

Slamet Suradio, masinis yang selamat dari peristiwa tabrakan kereta api dalam Tragedi Bintaro 1987, meninggal dunia pada Rabu, 3 Juni 2026, dini hari.

OPINI
Menanti Keadilan Pendidikan untuk Madrasah Aliyah di Banten

Menanti Keadilan Pendidikan untuk Madrasah Aliyah di Banten

Sabtu, 11 Juli 2026 | 20:58

Masuknya MA swasta ke dalam Program Sekolah Gratis sejatinya merupakan langkah yang sudah semestinya dilakukan. Madrasah Aliyah merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional yang memiliki kontribusi besar dalam mencetak generasi berilmu

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill