Malaysia Pangkas Harga Solar Jadi Rp9.000-an per Liter, Ini Alasan di Baliknya
Selasa, 23 Juni 2026 | 11:51
Pemerintah Malaysia memutuskan menurunkan harga solar menjadi 2,10 ringgit Malaysia atau sekitar Rp9.061 per liter mulai Juli 2026.
TANGERANGNEWS.com- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan posisi matahari yang berada tepat di atas Ka'bah, Kota Mekkah, pada 26 hingga 30 Mei 2023.
BMKG mengungkap, fenomena itu dapat menyebabkan perbedaan pada arah kiblat.
"Peristiwa tersebut hanya berlaku untuk Indonesia bagian Barat dan Tengah bagian Barat," jelas BMKG melalui akun Instagram resminya, @tandawaktubmkg.
Untuk itu, BMKG mengingatkan agar kembali mengecek arah kiblat yang sesuai dalam periode tanggal tersebut.
"Sesuaikan jam yang digunakan dengan jam atom BMKG di https://jam.bmkg.go.id atau https://ntp.bmkg.go.id," ujar BMKG.
Selain itu, gunakan alat yang dapat dijadikan tegak lurus pada permukaan datar, seperti bandul, tiang, maupun dinding bangunan yang tegak lurus dengan tanah datar.
"Lakukan proses kalibrasi sejak 5 menit sebelum dan sesudah 16.18 WIB atau 17.18 WITA (waktu puncak)," terang BMKG.
Terakhir, perhatikan bayangan yang terjadi saat waktu puncak. Tarik garis dari ujung bayangan hingga ke posisi alat. Garis itulah arah kiblat yang sudah dikalibrasi dengan posisi Matahari saat tepat berada di atas Ka'bah.
"Kondisi seperti ini akan terulang tiap tahunnya pada tanggal 26 hingga 30 Mei dan 14 sampai 18 Juli," kelas BMKG.
Sedangkan, untuk wilayah Indonesia bagian Timur dan sebagian Indonesia Tengah bagian Timur penentuan arah kiblatnya dapat dilakukan ketika Matahari berada pada posisi antipoda, yakni berlawanan arah Ka'bah yang terjadi setiap pada 14 Januari pukul 06.30 WIT dan 29 November pukul 06.09 WIT.
Pemerintah Malaysia memutuskan menurunkan harga solar menjadi 2,10 ringgit Malaysia atau sekitar Rp9.061 per liter mulai Juli 2026.
TODAY TAGPemerintah Kabupaten (Tangerang) berencana mengadakan nonton bareng (Nobar) FIFA World Cup 2026 di 29 Kecamatan yang berada di wilayah tersebut.
Perubahan nama ini didasari oleh tingginya angka underdiagnosis atau kasus yang tidak terdeteksi di masyarakat.
Slamet Suradio, masinis yang selamat dari peristiwa tabrakan kereta api dalam Tragedi Bintaro 1987, meninggal dunia pada Rabu, 3 Juni 2026, dini hari.
RECOMENDED
Tangerang News
@tangerangnews