Connect With Us

Transparan dan Lugas, Fadli Zon dan Anhar Gonggong Buka-bukaan soal PKI

Redaksi | Selasa, 6 Oktober 2020 | 12:16

| Dibaca : 1939

Fadli Zon. (Republika / Republika)

 

Oleh : Aisyah Supernova (silahkan ganti nama jika diperlukan dan selama tidak merubah makna esensial dari tulisan ini)

 

ILC atau Indonesia Lawyers Club yang merupakan sebuah program di salah satu TV Swasta acap kali menghadirkan tema yang kontroversial dan menarik perhatian publik. Termasuk pada ILC dengan tema 'IDEOLOGI PKI MASIH HIDUP?' yang ditayangkan nasional pada 29 September 2020 kemarin menarik untuk dibahas.

Di antara 12  narasumber yang diundang pada hari itu, ada dua narasumber yang akan dibahas dalam artikel ini. Keduanya memiliki kesamaan pembahasan yakni membawakan referensi literatur dan pengalaman yang lebih banyak dari ke sepuluh narasumber lainnya terkait tema yang dibawakan. Kedua narasumber tersebut adalah Fadli Zon yang merupakan seorang politisi dan juga mengambil program doktoral di bidang sejarah dan Anhar Gonggong yang merupakan seorang sejarawan.

Membahas sebuah tema yang berkaitan erat dengan sejarah kelam Bangsa Indonesia yang mencapai puncaknya pada 30 September 1965. Pembantaian dan upaya kudeta yang dilakukan oleh PKI atau Partai Komunis Indonesia pada masa tersebut meninggalkan trauma dan kekhawatiran pada sebagian besar masyararakat tanah air. Fadli Zon dalam pemaparannya mengatakan ada dua kali upaya kudeta yang pernah dilakukan PKI. Yaitu pada tahun 1948 dan tahun 1965.

Termaktub dalam TAP MPRS No 25 tahun 1966 dan UU 27 tahun 1999 yang menyatakan bahwa PKI dibubarkan dan dilarang termasuk ajaran Komunisme / Marxisme-Leninisme dalam segala bentuk dan perwujudan di  Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Ketetapan resmi negara akan tragedi ini sudah final dan menasional. Dalam buku Revolusi dan Negara dituliskan 'bahwa revolusi harus terjadi sebelum transformasi masyarakat. Karena itu kaum revolusioner harus merebut kekuasaan sebelum mereka melaksanakan program. Revolusi merupakan konspirasi yang dilakukan kelompok kecil atas nama massa. Begitu kekuasaan sudah ditangan, baru pemerintah akan melaksanakan 'revolution from above' atau revolusi dari atas dengan menggunakan kekuatan terorganisir dari negara'.

Fadli Zon juga membuat sebuah buku 'Kesaksian Korban Kekejaman PKI Tahun 1948. Fadli Zon membuat buku tersebut berdasarkan anjuran dari KH Yusuf Hasyim, Putra dari Alm KH Hasyim Ays'ari pendiri NU atau Nahdlatul Ulama. Fadli Zon dan Yusuf Hasyim melakukan penelitian kepada para korban untuk buku tersebut. Para korban mayoritas adalah para tokoh kyai NU di Pesantren Takeran (Magetan) hingga Pesanten Gontor (Ponorogo). Korban-korban tersebut dibantai dan kemudian dibuang di lubang buaya, sumur-sumur seperti Sumur Soco 1, Sumur Soco 2,  dan tempat lainnya. Mereka juga menemukan realita bahwa PKI berkolaborasi dengan Belanda tahun 1948 pada persiapan menghadapi Agresi Militer Belanda yang kedua dengan mendeklarasikan 'Soviet Madiun' pada 18 September 1948 setelah sebelumnya terjadi kerusuhan di Solo dan Yogyakarta. PKI menyatakan 'Proklamasi 45 itu adalah revolusi yang gagal.. revolusi barjuis.'.  

Dukungan Belanda pada PKI terlihat melalui beberapa peristiwa seperti dukungan pemberitaan Musso sampai pengejaran 50 orang pelaku PKI yang dilindungi tentara Belanda. PKI dalam sejarah tidak menunjukan keterlibatannya dalam proklamasi kemerdekaan NKRI.  Hanya tokoh nasionalis dan (nasionalis) Islam yang terlibat.

Musso, seorang tokoh komunis juga turut hadir pada deklarasi tersebut melalui bantuan Belanda untuk masuk ke Indonesia. Musso membuat manifesto Jalan Baru Untuk Republik Indonesia yang berisikan kecamannya pada Soekarno - Hatta dan menyampaikan pandangannya bahwa ideologi PKI adalah Marxisme-Leninisme. Menyikapi hal tersebut Bung Karno dan Bung Hatta berpidato "bahwa ini adalah gerakan untuk kudeta.. mengambil alih republik (Indonesia).." dan diakhir beliau (Soekarno) menyatakan "pilih Soekarno Hatta atau pilih Musso?". 

Mendengar pidato tersebut Musso tak tinggal diam. Musso turut berpidato dan menyebut Bung Karno sebagai tukang jual romusha  dan menyatakan 'sekarang mereka akan menjual Indonesia dan rakyatnya sekali lagi pada imperialis Amerika.. rakyat belum lupa semboyan-semboyan Soekarno.. mereka  mengerti bahwa kaum dagang romusha (pemerintahan Soekarno) tak becus memerintah negara.. oleh  karena Rakyat Madiun dan daerah-daerah lain sekarang akan melepaskan diri dari budak-budak Imperialis..". Keduanya terdokumentasi otentik sebagai pidato dari Soekarno dan juga Musso.

Dalam Kongres PKI kelima di tahun 1954 membuat sebuah program bernama Metode Kombinasi Tiga Bentuk Perjuangan yaitu perang gerilya di desa, melawan setan-setan di kota dan infliltrasi pada angkatan bersenjata. Sepanjang tahun 1957 hingga 1965 sejarah juga mencatatkan berbagai teror yang dilakukan oleh PKI. 

Pemaparan fakta berbagai teror tersebut juga dapat dilihat pada buku Lakon Politik "Che Guevara Melayu" – Dokumentasi Teror PKI oleh Ridwan Saidi yang berisikan dokumentasi teror PKI dari tahun 1955 hingga 1960.

Fadli Zon juga membawakan cetakan photocopy Harian Rakyat tanggal 2 Oktober 1965  yang merupakan koran yang dipimpin oleh Njoto, salah satu petinggi PKI. Dalam editorialnya menuliskan 'Rakyat yang sadar akan politik dan tugas-tugas revolusi meyakini akan benarnya tindakan yang dilakukan oleh gerakan 30 September untuk menyelamatkan revolusi dan rakyat…dst'  termasuk karikatur yang ditampilkan mengenai penyerangan kepada para Jendral dengan memutarbalikkan fakta. Hal tersebut merupakan bukti otentik sekaligus konfirmasi dari pihak PKI sendiri akan jatidiri PKI yang mau mengkudeta pemerintahan NKRI.

Fadli Zon pernah mendatangi makam dari tokoh-tokoh komunis dunia. Seperti rumah Stalin di Gori, Georgia, Rumah Karl Marx di Trier, Jerman untuk menyelami pemikiran mereka tentang komunisme. Termasuk ke Kamboja di Killing Fields yang merupakan lahan sekitar dua hektar yang digunakan untuk pembantaian ribuan orang oleh rezim Komunis di Kamboja. Dalam buku The Black Book of Communism mencatat ada sekitar 95 juta manusia yang menjadi korban pembantaian Komunis di seluruh rezim komunis di dunia. Rusia atau Uni Soviet dan Cina dulunya menduduki negara dengan korban komunis terbanyak.

Pada sesi closing statement, Anhar Gonggong yang merupakan seorang sejarawan turut menambahkan, "Kesalahan kita selama ini, adalah kita hanya melihat G 30S itu pada 65 (1965).. Kita lupa bagaimana proses 60 sampai dengan 64 (1960-1964).. disanalah proses itu terjadi yang kemudian membawa peristiwa itu.. (G30 S / G 30S PKI). Dalam laporan penelitian DN Aidit, menyebutkan '7 Setan Desa' (yang dinilai sebagai penghambat jalannya perubahan di pedesaan untuk mengangkat derajat kehidupan petani lebih baik). Salah satu setan yang DN Aidit maksud adalah kyai desa.

TagsOpini
KAB. TANGERANG
Cagar Budaya Makam Ki Mawuk Tangerang Kondisinya Memprihatinkan

Cagar Budaya Makam Ki Mawuk Tangerang Kondisinya Memprihatinkan

Selasa, 2 Maret 2021 | 14:08

TANGERANGNEWS.com-Anggota DPRD Kabupaten Tangerang dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Ahmad Syahril bersama Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI dari Banten Abdi Sumaithi melakukan ziarah ke makam Ki Mawuk

BANTEN
Mengerikan Tangerang Dikepung Banjir, Karang Tengah-Kutabumi-Jatake-Pasar Kemis-Gading Serpong 

Mengerikan Tangerang Dikepung Banjir, Karang Tengah-Kutabumi-Jatake-Pasar Kemis-Gading Serpong 

Sabtu, 20 Februari 2021 | 06:07

Sejumlah wilayah di Kota Tangerang, mulai dari Karang Mulya, Karang Tengah, Ciledug Indah, Kutabumi, Periuk, Jatake hingga ke wilayah Kabupaten Tangerang Gading Serpong, Pasar Kemis, Cikupa bahkan sampai ke Tangsel tepatnya di Jalan Raya Serpong

TANGSEL
Meski Takut Jarum Suntik, Wartawan Tangsel Ikut Vaksinasi COVID-19

Meski Takut Jarum Suntik, Wartawan Tangsel Ikut Vaksinasi COVID-19

Selasa, 2 Maret 2021 | 14:59

TANGERANGNEWS.com-Selain Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pejabat publik, Pemerintah Kota Tangerang Selatan juga menjadikan insan pers atau wartawan menjadi salah satu prioritas dalam vaksinasi tahap kedua ini

"Cara terbaik untuk memprediksi masa depan Anda adalah dengan menciptakannya."

Abraham Lincoln