Connect With Us

Ridwan Saidi Sebut Hoax Perpecah Persatuan Bangsa

Yudi Adiyatna | Minggu, 18 Maret 2018 | 10:00

Kegiatan diskusi "Kongkow Kebudayaan" di Jalan Tarumanegara 45, Pisangan, Ciputat, Tangerang Selatan, Sabtu (17/3/2018) sore. (@TangerangNews / Yudi Adiyatna)

TANGERANGNEWS.com-Maraknya penyebaran informasi/kabar hoax di era melalui media sosial saat ini semakin mengancam persatuan bangsa, terlebih penyebaran informasi hoax ini dilakukan saat bangsa ini akan menghadapi tahun-tahun politik. 

Melihat fenomena tersebut, Tokoh Budayawan Betawi, Ridwan Saidi, mengatakan, jika kondisi demikian dibiarkan terus berlarut maka dapat membenturkan antar kelompok masyarakat, baik itu dari ras, suku, maupun agama yang berbeda satu sama lain.

"Sekarang ini semua berita-berita bohong, atau Hoax itu makin vulgar, saling serang antar kelompok. Kalau hanya mengandalkan penegakan hukum mau sampai kapan habisnya, karena hoax itu juga terkadang ikut disebarluaskan oleh orang-orang yang tak paham dengan kabar itu sebenarnya," katanya dalam diskusi "Kongkow Kebudayaan" di Jalan Tarumanegara 45, Pisangan, Ciputat, Tangerang Selatan, Sabtu (17/3/2018) sore.

Ridwan Saidi menjelaskan, Indonesia dianugerahi oleh sang pencipta dengan keanekaragaman budaya. Kenyataan itu, jika dipahami dan dihayati akan melahirkan cara berfikir dan bertingkah laku yang berkesesuaian sebagaimana dicetuskan dalam falsafah Kebhinekaan.

"Tiap daerah punya budaya masing-masing, punya cara tersendiri dalam menyelesaikan suatu perbedaan. Kalau kultur itu terus dipelihara, tertanam kuat, maka enggak mungkin hoax itu bisa memprovokasi, enggak laku. Tinggal instrumen dari negara juga terlibat, hadir disitu. Jadi yang utama adalah, bagaimana menghadirkan nilai kebudayaan itu sendiri di tengah-tengah kita," imbuhnya.

Dirinya pun berpesan, untuk menjaga iklim pesta demokrasi melalui nilai kebudayaan itu juga mesti dipraktekkan oleh para kandidat yang bertarung. Pasalnya, kebanyakan figur yang tampil hanya berkutat pada visi-misi yang jamak, seperti tentang ekonomi, pendidikan, kesehatan, namun melupakan dimensi kebudayaan yang ada.

"Kadang kandidat-kandidatnya baru pakai blangkon, baju batik, sarung dan kopiah, saat datang ke TPS saja, formalitas, itu pun 5 tahun sekali. Jadi tidak menghayati betul makna kebudyaan kita seperti apa, harusnya dipahami dan dipraktekkan," ucapnya.(RAZ/RGI)

PROPERTI
Program Video Competition Sinar Mas Land Diganjar Penghargaan Perhumas PR Excellence Awards 2026

Program Video Competition Sinar Mas Land Diganjar Penghargaan Perhumas PR Excellence Awards 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 22:48

Sinar Mas Land kembali mengukuhkan prestasinya di bidang komunikasi korporasi dengan meraih Juara II Perhumas PR Excellence Awards 2026 untuk kategori Teknologi & Digital PR.

OPINI
Menagih Integrasi Perencanaan Kota dari Kasus Jalan Teuku Umar

Menagih Integrasi Perencanaan Kota dari Kasus Jalan Teuku Umar

Rabu, 4 November 2026 | 19:24

Pembangunan infrastruktur perkotaan sering kali menjadi panggung paling transparan dalam menguji efektivitas tata kelola pemerintahan daerah. Ruang publik dan fasilitas jalan bukan sekadar struktur fisik dari bahan semen dan aspal

TEKNO
Cegah Serangan Siber PHP2Shell, Pemkot Tangerang Amankan 157 Aplikasi

Cegah Serangan Siber PHP2Shell, Pemkot Tangerang Amankan 157 Aplikasi

Rabu, 28 Oktober 2026 | 22:21

Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) memastikan pelayanan publik berbasis digital tetap berjalan lancar. Pemkot juga menjamin seluruh data pribadi masyarakat berada dalam kondisi aman

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill