VIVERE Hotel Hadirkan “Big Days, Open Doors”, Open House untuk Konsultasikan Acara Pernikahan
Senin, 21 September 2026 | 17:09
VIVERE Hotel, ARTOTEL Curated menghadirkan open house dengan konsep berbeda melalui “Big Days, Open Doors”.
TANGERANGNEWS.com-Korban sodomi yang dilakukan WS alias Babeh, 49, mengalami trauma berat. Salah satu korban yang tidak kuat menahan sakit dan trauma setelah mendapatkan kekerasan seksual, perilakunya berubah drastis.
"Anak tersebut sering marah-marah bahkan sering mengancam akan membunuh ibunya," kata Nadli Rotun, Sekretaris Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A) Kabupaten Tangerang di Mapolresta Tangerang, Jumat (5/1/2018).
BACA JUGA:
Dikatakannya, korban yang masih duduk dibangkus sebuah Madrasah Tsanawiyah (MTs) tersebut paling sering menjadi sasaran nafsu syahwat WS. Sehingga korban yang paling menderita secara fisik maupun psikis.
"Korban 17 kali digauli," tambahnya.
Selain paling besar dari segi usia, korban juga, lanjut Nadil, adalah yang paling pertama menjadi korban WS saat telah pindah ke Kecamatan Rajeg tersebut.
"Sebenarnya ada tiga yang seusia. Namun dua anak lainnya tidak bisa ditemui. Jumlah korban ada 40, empat anak saat di Gunung Kaler," terangnya.
Nadli mengakui, korban sebelumnya diminta meminum gotri saat ritual menurunkan ajian semar mesem. Namun itu ternyata hanya akal-akalan pelaku. Sebab, sebenarnya pelaku tidak memiliki ajian yang dikenal untuk pengasihan terhadap lawan jenis tersebut membuat para korban mengalami mual-mual.
"Bahkan saat trauma healing pertama, ada yang sampai muntah-muntah, sampai kita tak tega melihatnya," bebernya.
Dari pengakuan korban juga, setelah meminum gotri tersebut mereka merasa melayang seperti mabuk.
"Nanti setelah sadar mereka merasa lemas, kemudian marah-marah, bahkan ada yang mengamuk sambil membawa golok," tukasnya.
Polresta Tangerang Buka Posko Pengaduan
Tidak menutup kemungkinan jumlah korban sodomi Babeh bertambah, Polresta Tangerang terus melakukan pengembangan kasus sodomi yang dilakukan Babeh.
Salah satunya membuka posko pengaduan untuk menampung korban yang belum melapor.
"Kita membuka posko pengaduan karena kemungkinan korban masih bertambah," ujar Kapolda Banten, Brigjen Pol Listyo Sigit Prabowo yang memimpin konferensi pers terkait kasus tersebut di Mapolresta Tangerang, Jumat (5/1/2018).
Menurut Listyo, sampai saat ini, jumlah korban yang sudah melapor sebanyak 41 orang. Jumlah tersebut pun dikatakannya kemungkinan masih akan bertambah.
Sementara, menurut data P2TP2A Kabupaten Tangerang, saat ini sudah 39 korban yang telah terdata. Namun dari jumlah tersebut, tujuh korban menolak dilakukan visum.
"32 korban sudah divisum dan di RSUD Balaraja dan ditrauma healing untuk tahap awal," ujar Nadli Rotun, Sekretaris P2TP2A Kabupaten Tangerang.
Ditanya alasan tujuh korban menolak dilakukan visum dan trauma healing, Nadli mengatakan, karena pihak keluarga korban menolak anaknya divisum dan ditrauma healing.
Alasan penolakan tersebut karena ketakutan pihak keluarga korban mengeluarkan biaya untuk proses visum dan trauma healing, karena sebagian besar korban berasal dari keluarga tidak mampu. "Dianggapnya visum itu tak gratis," tukasnya.(DBI/RGI)
VIVERE Hotel, ARTOTEL Curated menghadirkan open house dengan konsep berbeda melalui “Big Days, Open Doors”.
TODAY TAGKementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI mendorong pemanfaatan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) oleh tenaga pendidik dalam metode pembelajaran di ruang kelas lewat program Terpujilah GURU 2026
Rencana pemerintah menggratiskan biaya pendidikan negeri dari jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi masih dalam tahap penyusunan.
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tangerang mendorong percepatan pengesahan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Penataan Pusat Perbelanjaan dan Toko Swalayan.
RECOMENDED
Tangerang News
@tangerangnews