Connect With Us

7 Kebudayaan Nusantara dari Tangerang Ini Tetap Terlestarikan Meski Digempur Modernisasi

Fahrul Dwi Putra | Selasa, 11 Oktober 2022 | 10:50

Tradisi palang pintu digelar dalam prosesi nikah masal di Tangerang Ngebesan, Sabtu (29/2/2020). (TangerangNews / Rangga A Zuliansyah)

TANGERANGNEWS.com-Sebagai kota terbesar di Provinsi Banten dan kota yang berbatasan langsung dengan ibukota DKI Jakarta, Tangerang sarat akan kehidupan modern, dibuktikan dengan masyarakatnya yang memiliki mobilitas tinggi, gaya hidup serba instan, dan dominasi penggunaan teknologi komunikasi.

Meski digempur dengan modernisasi, tetapi masih ada sisa kebudayaan yang terus dilestarikan hingga kini. Hal itu meliputi tradisi, ritual tradisional, serta berbagai kesenian lokal. 

Kebudayaan tersebut masih dipertahankan lantaran  telah mengakar di daerahnya dan telah menjadi salah satu ikon dari Tangerang. Berikut beberapa diantaranya.

1. Palang Pintu

Dulunya tradisi ini hanya dilakukan oleh golongan orang kaya. Namun, kini seluruh lapisan masyarakatnya sudah bisa melaksanakannya. Tradisi asal suku Betawi ini biasanya digunakan dalam acara pernikahan, penyambutan tokoh, dan hiburan dengan iring-iringan alat music pencak seperti kempu, kemong, gendang pencak, gendang dua set, dan kecrek.

Adapun Rangkaian upacara palang pintu dimulai dari pencak silat, saling berbalas pantun, hingga mengaji.

2. Maulid Nabi Muhammad SAW di Sungai Cisadane

Beberapa daerah di Nusantara memang memiliki tradisinya tersendiri dalam merayakan maulid Nabi, Tangerang sendiri melakukan peringatan tersebut di Sungai Cisadane.

Baca juga: Perlu Tahu! Hal Unik Ini Hanya Ada di Kabupaten Tangerang

Masyarakat akan duduk melingkar di tepi Sungai Cisadane sambil memanjatkan doa, tidak lupa adanya sesajen berupa kembang, aneka buah, dan kue yang ditaruh tepat di hadapan mereka.

3. Sedekah Bumi

Upacara ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas limpahan rezeki berupa hasil panen, biasanya dilakukan oleh para petani dan nelayan.

Meski telah menjadi kota modern, Tangerang tetap mempertahankan budaya ini. Rangkaian upacara sedekah bumi diawali dengan  acara berdoa bersama. Kemudian, di akhir acara, masyarakat menampilkan berbagai kesenian lokal. Selain itu, sedekah bumi dilengkapi acara makan bersama.

4. Upacara Seba

Tradisi ini dilakukan oleh suku Badui sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen yang melimpah di ladang huma. Seperti diketahui, suku Badui merupakan kelompok yang sangat mempertahankan budaya tradisional dan mengisolasi diri dari kehidupan modern.

Baca juga: Jadi Warisan Budaya, Ini Sejarah Gambang Kromong yang Populer di Kalangan Cina Benteng

Dalam rangkaian acaranya, para suku Badui akan mengawalinya dengan berjalan kaki ratusan kilometer melintasi berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Banten, termasuk Tangerang. Puncaknya, upacara seba dilaksanakan di Pendopo Gubernur Banten.

5. Keramas di Sungai Cisadane

Ritual ini bertujuan untuk membersihkan diri sebagai penyambutan bulan suci Ramadhan. Tradisi yang sudah ada sejak 90-an ini menggunakan merang sebagai pengganti sabun dan sampo lantaran zaman dulu belum ada kedua benda tersebut. Merang yakni batang padi yang dibakar, lalu direndam.

6. Jalan Sarungan

Jalan Sarungan merupakan komitmen dari masyarakat Tangerang untuk tetap melestarikan budaya meski telah menjadi kota modern. Sesuai dengan namanya, pertunjukan Jalan Sarungan, masyarakat yang mengikuti kegiatan ini harus mengenakan sarung sepanjang jalan mengikuti rute yang telah ditentukan.

Baca juga: Mengenal 6 Tarian Tradisional Khas Tangerang

Rute Jalan Sarungan  dimulai dari Pusat Pemerintahan Kota Tangerang. Lalu, perjalanan dilanjutkan ke Daan Mogot dan Jembatan Berendeng. Selanjutnya, menuju kawasan Benteng Jaya dan berakhir di Masjid Raya Al-Azhom.

7. Peh Cun

Sungai Cisadane kembali menjadi instrumen yang lekat akan kebudayaan masyarakat Tangerang, kali ini merupakan lomba balap perahu yang sudah ada sejak abad ke-19.

Awalnya, Kelenteng Boen Tek Bio mendapat sumbangan perahu dari Kapitan Oey Khe Tay. Kemudian, perahu naga pemberian tersebut digunakan untuk mengikuti suatu lomba balap perahu. Hasilnya, ternyata Kelenteng Boen Tek Bio keluar sebagai pemenang.

Baca juga: Sejarah Panongan, Wilayah Pengintaian Belanda hingga Hunian Modern

Berangkat dari hal tersebut, keturunan dari pemipin Kelenteng Boen Tek Bio melestarikan kebudayaan yang diberi nama Peh Cun itu. Acaranya dimulai dari tengah malam hingga siang di hari berikutnya. Hingga kini perahu tersebut masih disimpan oleh keturunan pemimpin Kelenteng Boen Tek Bio.

Itulah beberapa budaya Nusantara di Tangerang yang masih tetap bertahan meski saat ini telah memasuki zaman kemajuan teknologi yang amat pesat. Pelestarian budaya memanglah penting agar suatu daerah tidak kehilangan identitasnya.

HIBURAN
Nagita Ungkap Alasan Pendapatan RANS Turun, Kurangi Ketergantungan Raffi Ahmad

Nagita Ungkap Alasan Pendapatan RANS Turun, Kurangi Ketergantungan Raffi Ahmad

Jumat, 10 Juli 2026 | 16:23

Direktur Utama PT RANS Entertainment Indonesia Tbk Nagita Slavina mengungkap, alasan di balik penurunan pendapatan perusahaan dalam dua tahun terakhir.

OPINI
Menanti Keadilan Pendidikan untuk Madrasah Aliyah di Banten

Menanti Keadilan Pendidikan untuk Madrasah Aliyah di Banten

Sabtu, 11 Juli 2026 | 20:58

Masuknya MA swasta ke dalam Program Sekolah Gratis sejatinya merupakan langkah yang sudah semestinya dilakukan. Madrasah Aliyah merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional yang memiliki kontribusi besar dalam mencetak generasi berilmu

BISNIS
UMKM Bisa Buka Stand Bazar Gratis di MTQ XXIII Banten

UMKM Bisa Buka Stand Bazar Gratis di MTQ XXIII Banten

Kamis, 9 Juli 2026 | 18:10

Pelaku usaha mikro kecil dan menengah menengah (UMKM) yang hendak berjualan atau memamerkan produknya, dapat membuka stan tanpa biaya sewa di event Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) XXIII Provinsi Banten tahun 2026.

WISATA
Tembus Top 125 Event Nasional, Festival Cisadane 2026 Siap Digelar Lebih Megah dan Ramah Lingkungan

Tembus Top 125 Event Nasional, Festival Cisadane 2026 Siap Digelar Lebih Megah dan Ramah Lingkungan

Jumat, 10 Juli 2026 | 14:40

Kota Tangerang bersiap menyambut salah satu perhelatan budaya terbesar tahun ini. Festival Cisadane 2026 resmi akan berlangsung selama lima hari penuh, mulai 22 hingga 26 Juli 2026, dengan berpusat di Jembatan Kaca Berendeng.

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill